Yeay....akhirnya hari ini 13 Mei 2015, gw bisa juga berbicara langsung sama atasan gw di kantor untuk hubungan kerja gw sama perusahaan. Lega...itu sudah pasti, walaupun awalnya gw harus terima caci maki dari beliau.
Hari ini kalau di bilang pahit, iya...lebih pahit dari hari-hari kemarin. Tapi setidaknya gw happy, karena sebagian besar beban gw bisa di lepaskan dari pundak gw.
Bayangin aja, tiap hari gw kerja hanya untuk jadi bulan-bulanan bos gw. Tiap hari mereka mencaci gw karena sebuah kesalahan kerja yang bukan gw lakukan...dan itu buat gw muak!
Job desk awal gw kerja di perusahaan itu beda banget dengan apa yang gw jalani setelah beberapa bulan bekerja. Semua bagian di kasih ke gw dan gw yang handle, dan ini ga logis.
Jenuh, itu pasti. Gw jalani penuh dengan tekanan yang semakin tinggi dan buat gw agak stress menghadapi atasan gw yang kadang-kadang malah sering banget logika sama nalarnya ga jalan. Akhirnya bikin bingung orang yang ada di bawah dia secara langsung itu gw.
Gw ga mau terlalu lama terperangkap di lingkaran itu, semakin gw paksa untuk jalani semakin gw tersiksa.
Dari semua perkataan yang dia ucapkan siang tadi ga gw ambil pusing, karena sudah biasa bagi gw. Tapi ada satu hal yang ga bisa gw terima dari cara dia berbicara dan bersikap yaitu merendahkan pekerjaan seorang seniman.
Apakah profesi seorang pengusaha itu lebih baik dari seorang seniman?
Hello...ibu bos, pekerja seni itu jauh lebih baik karena mereka membuat sebuah karya dengan hati yang jujur.
Di bandingkan dengan pengusaha seperti anda, tapi tidak pernah bisa menghargai karyawan yang telah bekerja untuk perusahaan anda. Sadarkah, jika anda sudah mencurangi kami?
Berapa banyak keringat yang menetes, apakah sesuai dengan jumlah rupiah yang telah anda berikan?
Sudah terpenuhikah hak karyawan anda?
Selama ini anda menuntut kami bekerja dengan hasil yang lebih, tapi apa yang menjadi hak kami tidak pernah sesuai.
Sebenarnya, apapun profesi seseorang itu sama saja. Tujuan mereka untuk dapat bertahan hidup. Membuat hidup lebih bermakna.
Maaf, kalau akhirnya gw bahas soal "profesi".
Ini bentuk kekecawaan gw sama bos di tempat gw kerja yang ga pernah bisa menghargai orang lain.
Ga semua hal bisa di dapatkan dengan uang, mungkin itu yang harus di pahami lagi ibu bos.
Gw memutuskan untuk tidak bisa bertahan lebih lama lagi itu karena sikap anda sendiri.
Apapun yang gw lakukan, itu semata karena gw tau apa yang terbaik buat gw. Apa yang selama ini jadi mimpi dan tujuan gw.
Mungkin ini adalah batas kesabaran gw menghadapi orang seperti bos gw. Ya...gw ga bisa mengikuti semua mau si bos, karena semua bertentangan dengan prinsip gw juga bertentangan dengan UU Depnaker.
Berharap suatu hari setelah gw resmi keluar dari perusahaan ini di akhir juni mendatang, gw bisa menuntaskan kasus seperti ini.
Gw mau teman-teman di sana mendapatkan haknya.
Kita memang rakyat kecil, bukan berarti bisa di bodohi.
Dari kejadian hari ini, gw dapat menyimpulkan bahwa seni itu adalah dunia yang paling berkelas dan indah.
Karena ga semua orang bisa mengerti arti seni.
Contohnya...ya bos gw hahahaha....
Semangat....rejeki itu ga kayak sandal jepit, ga bakal tertukar.
Semua sesuai dengan takaran kebutuhannya masing-masing.
Semoga ga ada lagi pengusaha-pengusaha mafia seperti ini.
Hari ini kalau di bilang pahit, iya...lebih pahit dari hari-hari kemarin. Tapi setidaknya gw happy, karena sebagian besar beban gw bisa di lepaskan dari pundak gw.
Bayangin aja, tiap hari gw kerja hanya untuk jadi bulan-bulanan bos gw. Tiap hari mereka mencaci gw karena sebuah kesalahan kerja yang bukan gw lakukan...dan itu buat gw muak!
Job desk awal gw kerja di perusahaan itu beda banget dengan apa yang gw jalani setelah beberapa bulan bekerja. Semua bagian di kasih ke gw dan gw yang handle, dan ini ga logis.
Jenuh, itu pasti. Gw jalani penuh dengan tekanan yang semakin tinggi dan buat gw agak stress menghadapi atasan gw yang kadang-kadang malah sering banget logika sama nalarnya ga jalan. Akhirnya bikin bingung orang yang ada di bawah dia secara langsung itu gw.
Gw ga mau terlalu lama terperangkap di lingkaran itu, semakin gw paksa untuk jalani semakin gw tersiksa.
Dari semua perkataan yang dia ucapkan siang tadi ga gw ambil pusing, karena sudah biasa bagi gw. Tapi ada satu hal yang ga bisa gw terima dari cara dia berbicara dan bersikap yaitu merendahkan pekerjaan seorang seniman.
Apakah profesi seorang pengusaha itu lebih baik dari seorang seniman?
Hello...ibu bos, pekerja seni itu jauh lebih baik karena mereka membuat sebuah karya dengan hati yang jujur.
Di bandingkan dengan pengusaha seperti anda, tapi tidak pernah bisa menghargai karyawan yang telah bekerja untuk perusahaan anda. Sadarkah, jika anda sudah mencurangi kami?
Berapa banyak keringat yang menetes, apakah sesuai dengan jumlah rupiah yang telah anda berikan?
Sudah terpenuhikah hak karyawan anda?
Selama ini anda menuntut kami bekerja dengan hasil yang lebih, tapi apa yang menjadi hak kami tidak pernah sesuai.
Sebenarnya, apapun profesi seseorang itu sama saja. Tujuan mereka untuk dapat bertahan hidup. Membuat hidup lebih bermakna.
Maaf, kalau akhirnya gw bahas soal "profesi".
Ini bentuk kekecawaan gw sama bos di tempat gw kerja yang ga pernah bisa menghargai orang lain.
Ga semua hal bisa di dapatkan dengan uang, mungkin itu yang harus di pahami lagi ibu bos.
Gw memutuskan untuk tidak bisa bertahan lebih lama lagi itu karena sikap anda sendiri.
Apapun yang gw lakukan, itu semata karena gw tau apa yang terbaik buat gw. Apa yang selama ini jadi mimpi dan tujuan gw.
Mungkin ini adalah batas kesabaran gw menghadapi orang seperti bos gw. Ya...gw ga bisa mengikuti semua mau si bos, karena semua bertentangan dengan prinsip gw juga bertentangan dengan UU Depnaker.
Berharap suatu hari setelah gw resmi keluar dari perusahaan ini di akhir juni mendatang, gw bisa menuntaskan kasus seperti ini.
Gw mau teman-teman di sana mendapatkan haknya.
Kita memang rakyat kecil, bukan berarti bisa di bodohi.
Dari kejadian hari ini, gw dapat menyimpulkan bahwa seni itu adalah dunia yang paling berkelas dan indah.
Karena ga semua orang bisa mengerti arti seni.
Contohnya...ya bos gw hahahaha....
Semangat....rejeki itu ga kayak sandal jepit, ga bakal tertukar.
Semua sesuai dengan takaran kebutuhannya masing-masing.
Semoga ga ada lagi pengusaha-pengusaha mafia seperti ini.
Comments
Post a Comment