Buruh Juga Manusia

Yang mau gw tulis kali ini mungkin agak berebeda dari yang pernah gw tulis sebelumnya.
Ini adalah bentuk kekecewaan gw dan teman-teman gw kerja pada perusahaan tempat kita bekerja.

Jadi gini, tempat gw kerja itu satu gedung ada 3 perusahaan tapi 1 grup dengan pemilik yang sama. Ada PT. ALPKS, D*T & JT,gw ada di bawah manajemen PT. ALPKS yg bergerak di industry polybag. 

Gw kerja di perusahaan tersebut baru 7 bulan, tapi melihat keadaan manajemen yang tidak sehat membuat mata gw terbuka.
Banyak kecurangan, seperti halnya dalam gaji, lemburan, status pekerja terutama bagian produksi di mana upah yang mereka terima jauh dari kata layak.

Kalau di bandingkan dengan gaji yang gw terima itu hampir 2x lipat sangat jauh. Bukan berarti gw menikmati perbedaan upah. Yah, gw memang menang di jabatan bukan berarti gw ga merasakan apa yang mereka rasakan.

Setinggi apapun jabatan kita, selama kita masih di bawah telunjuk orang dan terima gaji...kita adalah kuli atau buruh, apapun itu namanya. Karyawan di bagian produksi, mereka di bayar harian. Upah yang mereka terima itu Rp. 45.000 selama 3 bulan, setelah itu naik jadi Rp. 50.000.

Coba bayangkan di jaman sekarang uang sebesar itu bisa dapat apa?
Mereka terima itu sudah bersih, tidak ada tambahan apapun lagi. Termasuk jika terjadi kecelakaan kerja, di luar tanggungan perusahaan.

Miris, Jamsostek atau sejenisnya pun tidak ada. Sedangkan pekerjaan yang kami lakukan sangat beresiko. Terutama yang berada di lapangan.


Beberapa bulan yang lalu, ada dua orang karyawan produksi mengalami kecelakaan kerja tangannya terjepit di mesin.
Tapi apa yang terjadi, perusahaan sama sekali tidak ada rasa empati terhadap karyawannya. Justru menyalahkan karyawan yang mengalami kecelakaan kerja tersebut.

Sistem manajemen yang tidak sehat juga tidak terkontrol.

Uang lemburan satu jam hanya Rp. 5.000 ini jauh dari standard depnaker.
Pekerjaan yang di berikan tidak pernah sesuai dengan job desk.
Pengusaha memberikan upah yang murah kepada karyawannya, tapi pekerjaan yang mereka lakukan lebih dari satu. Yang bukan bagian dia kerja pun, di kerjakan.

Gw pernah protes untuk minta tambah tenaga, khususnya di bagian yang gw handle itu packing jg pengiriman. Tapi respon si bos sama sekali ga peduli.

Ada 11 mesin produksi, untuk packing hanya di kasih 2 tenaga saja. Dan itu di bagi untuk 2 shift, jadi 1 shift itu 1 orang tenaga packing untuk 11 mesin produksi. Kadang mereka pun harus kerja serabutan, ga cuma fokus packing saja tapi juga bantu pasang roll di mesin. Selain itu ada 1 orang untuk bagian gudang, bagian gudang pun kerjanya tidak hanya mengeluarkan roll untuk produksi saja, tapi juga menjahit karung yang berisi dus dan hasil produksi yang akan di kirim ke luar kota secara manual. Itu bisa sampai 20 karung yang di jahit.

Untuk bagian packing dan gudang itu laki-laki, perempuan hanya di produksi saja.
Gw kadang kasihan sama bagian packing juga gudang, karena mereka setiap hari harus angkat barang yang beratnya bisa sampai 50 Kg. Dan itu ga cuma satu barang aja. Tapi bos ga pernah menghargai keringat mereka.

Mungkin karena bos, merasa yang punya uang bisa memperlakukan karyawan sesuka hatinya. Gw jg rekan kerja gw, kita sering banget kerja over time tapi sama sekali ga ada harganya. Kadang apa yang kita kerjakan semaksimal mungkin, masih saja terlihat salah di mata bos.

Dan yang bikin gw ga habis pikir itu, kalau bos sudah ga suka dengan salah satu karyawannya...mereka langsung cari kesalahan karyawannya dengan meminta bantuan security lalu di keluarkan secara sepihak.

Di sini gw sadar, ternyata yang namanya penjilat itu ga cuma ada di pemerintahan saja. Tapi di ruang lingkup yang kecil, perusahaan gw kerja juga ada.  Saling menjatuhkan, saling mencaci juga memfitnah semua ada.

Belum lama ini, tepat tanggal 1 Mei 2015 kemarin kita merayakan hari buruh. Di saat seluruh buruh menyuarakan tuntutan kesejahteraan, tapi apa yang terjadi dengan gw juga rekan-rekan lainnya?
Di hari itu, kita masih bekerja. Walaupun di tukar dengan hari sabtu, menurut gw ini ga adil. Di hari itu, gw masih sibuk mengurus barang yang harus di kirim walaupun ga sebanyak hari biasanya.

Mungkin kalau tidak bertepatan dengan hari libur buruh di tukar dengan hari esok, ga jadi masalah. 

Dan belum lama ini, tepat akhir bulan april kemarin. Satu teman gw yang bekerja di bawah D*T selama 4 tahun, dia memutuskan mengundurkan diri karena sudah tidak sanggup bekerja dengan tekanan juga perlakuan yang tidak menyenangkan. Di mana dia sering sekali di caci maki di teriaki depan orang banyak oleh si bos. Karena kesalahan yang sebenarnya bukan dari dia.

Menambah catatan baru bagi gw tentang perusahaan ini, setelah 4 tahun bekerja tidak mendapatkan apa-apa yang menjadi haknya selama bekerja. Omset yang perusahaan terima itu ga ratusan juta, tapi mencapai milliaran tiap bulannya. Uang terima kasih pun tidak ada, bukan mengharapkan imbalan selama bekerja tapi setidaknya kebijakan itu ada. Tanpa seorang karyawan, perusahaan tidak akan mampu untuj berdiri.

Jujur...gw pengen banget bisa berontak, membela teman-teman lain yang bekerja di perusahaan ini agar bisa mendapatkan upah yang layak. Beberapa waktu lalu ada orang Depnaker yang datang untuk mengecek perusahaan ini yang konon katanya sudah PT. Tapi yang terjadi, orang Depnaker tidak berhasil menemui pemilik perusahaan yang katanya lagi di luar negri. Pada hal asilnya, mereka ada di 
ruangan.

Kita bekerja itu kan dengan tujuan agar bisa hidup dengan layak, bisa makan bisa memberikan masa depan yang lebih baik untuk keluarga.
Tapi kalau bekerja dengan cara yang seperti ini, apa masih bisa di pertahankan?

Gw berharap buruh di negri ini bisa dapat hidup lebih baik lagi, perlakuan pengusaha yang sering membodohi buruhnya...semoga bisa mendapatkan balasan yang setimpal.

Buruh juga manusia biasa, punya hati dan rasa. Kita bekerja bukan untuk di caci, tapi untuk di hargai.

Pengusaha boleh saja berkuasa dengan uangnya, tapi ingat jangan pernah merendahkan martabat seorang buruh.....




Comments