Apa kabar industry musik Indonesia?
Sudah kembali baik kah seperti era 90 atau semakin bobrok?
Entah siapa orang yang harus bertanggung jawab atas menurunnya kualitas musik lokal. Semakin banyaknya kehadiran musisi-musisi pendatang baru, harusnya bisa mengangkat kembali musik Indonesia yang sedang mengalami kebobrokan menjadi kembali baik. Dari segi kualitas maupun keamanan dan kenyamanan dalam bermusik. Bukan sebaliknya.
Memang benar banyaknya musisi-musisi pendatang baru, memberikan banyak warna musik di negri ini. Tapi itu justru membuat musik tersebut tidak punya karakter, karena hanya mengikuti trend di pasar industry musik. Dan kualitas musik Indonesia yang ada malah menurun drastis. Mereka lebih rela mengikuti permintaan pasar musik yang sedang booming dan rela menjual idealis bermusik demi materi dan ketenaran sebagai artis.
Acara-acara musik yang di siarkan setiap hari di waktu pagi di beberapa stasiun televisi, menambah daftar betapa bobroknya musik dalam negri saat ini. Sebagai acara musik di televisi harusnya memberikan tayangan dan liputan musik yang baik dan berbobot, semua tentang musik. Dari yang memberikan edukasi dari musik, pembahasan musik yang harusnya lebih banyak dan lebih mendalam sampai tentang perkembangan musik lokal maupun musik luar negri. Bukan membahas gosip dan kehidupan pribadi artis atau host yang membawakan acara tersebut. Karena ini acara musik, bukan acara gosip atau reality show apa lagi acara lawak yang tidak jelas. Kalau mau konsep acaranya seperti itu, lebih baik di ganti saja tema acaranya. Jangan mengusung konsep dan tema tentang musik.
Dan yang mengisi acara musik harusnya mereka yang benar-benar musisi, yang mengetahui seluk beluk tentang musik dari yang kecil hingga yang besar. Bukan artis sinetron yang sering tampil di stasiun televisi tersebut lalu mencoba menjadi penyanyi atau musisi. Belum lagi jam tayang di pagi hari, kadang saya merasa heran sama penonton yang ada di studio apakah mereka tidak sekolah atau tidak punya kegiatan lain di pagi hari?
Acara yang tidak memberikan pesan moral yang baik kok bisa ya punya rating siaran yang tinggi?
Lalu ada lagi di salah satu stasiun televisi swasta, yang mengadakan acara pencarian bakat anak dalam bernyanyi. Acara ini membuat saya kembali harus tertegun dan kecewa kepada stasiun televisi tersebut. Oke, acaranya tidak ada yang salah cuma sangat di sayangkan acara pencarian bakat bernyanyi kok jurinya seorang Mc yang juga komedian. Harusnya kan yang menjadi juri adalah orang yang berkecimpung langsung di bidang musik. Untung saja acara ini masih tertolong oleh dua orang juri lainnya yang kebetulan dua orang tersebut adalah musisi.
Televisi harusnya menjadi media yang tepat untuk kemajuan musik lokal, karena dari televisi masyarakat luas bisa melihat dan mendengar langsung tentang musik. Bukan membuat musik lokal semakin terpuruk. Dalam sebuah acara, sering kita mendengar penyanyi yang membawakan lagu secara lipsync. Dulu, mana ada penyanyi lipsync. Apakah lipsync keinginan dari penyanyinya langsung atau dari pihak televisi? Entahlah, hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang mengetahui. Karena lipsync itu sama saja kebohongan public.
Musik itu selalu menunjukan karakter dari musisinya. Seperti girl band atau boy band yang sedang menjamur sampai saat ini. Semua identik dengan K-Pop, sampai sulit untuk di bedakan mana girl band A dan mana girl band B?
Karena dari musik sampai ke tata rias wajah dan rambut sampai style busananya, semua benar-benar di buat sampai mirip dengan artis dan juga musik K-Pop. Lalu bagaimana kita sebagai penikmat musik dapat mengenal girl band tersebut dari lagunya maupun dari performnya saat berada di atas panggung?
Jujur, dulu saya sempat keliru saat melihat salah perform dari gilr band waktu itu yang lagi naik daun. Saya sempat mengira girl band yang lagi perform adalah 7 Icon, ternyata salah mereka adalah Cherrybhelle.
Terlepas dari masalah K-Pop, sebenarnya masih banyak masalah yang membuat kualitas musik negri ini semakin menurun. Salah satunya adalah trend musik. Demam musik band melayu pun sempat melanda. Awal kemunculan band musik melayu di mulai dari St12. Saat St12 meroket namanya dengan musik melayu yang mereka usung sebagai karakter musiknya, bermunculan band pendatang baru lainnya dengan warna musik sampai style yang sama persis dengan St12. Sungguh membuat saya semakin malas untuk mendengar musik lokal saat itu.
Ada Kangen Band, entah apa karena kasihan atau apalah saya tidak mengerti alasannya. Dan saat itu Kangen Band pun ikut meroket namanya, band asal Lampung ini berhasil masuk ke label rekaman mayor tebesar di negri ini. Padahal musisi-musisi yang memiliki kualitas musik yang mumpuni di negri ini sangat banyak, kalau mau di telusuri di youtube ataupun di souncloud. Kadang saya suka merasa prihatin dengan kondisi industri musik saat ini, lebih mementingkan musik yang sedang trend ketimbang kualitas dari musisinya.
Begitupun dengan penyanyi solo perempuan, sampai saat ini saya lebih suka penyanyi solo perempuan senior ketimbang penyanyi pendatang baru. Penyanyi pendatang baru lebih menonjolkan kecantikan untuk di jual dari pada kualitas vokal dan musiknya. Dulu, penyanyi yang eksis adalah penyanyi yang benar-benar punya kualitas musik yang tinggi sampai saat ini karya-karya mereka tetap enak untuk di dengar. Kalau sekarang penyanyi yang ada lebih banyak gaya dan sensasi dari pada prestasi. Beruntung sekarang masih ada Raisa dan Isyana Sarasvati, mereka memang lebih layak untuk menjadi musisi karena kualitasnya bukan karena kecantikannya.
Dan satu lagi masalah besar untuk industry musik di negri ini adalah pembajakan yang tak kunjung musnah. Pemerintah sampai saat ini sepertinya tidak pernah serius untuk memberantas kejahatan pelanggaran hak cipta ini. Sudah jelas pembajakan secara fisik sangat merugikan musisi lalu di tambah lagi pembajakan download lagu illegal, kejahatan massal dari kecanggihan teknologi. Membuat musisi menjadi tidak nyaman untuk berkarya, karena kejahatan pelanggaran hak cipta sampai saat ini pelakunya masih bebas berkeliaran.
Mau sampai kapan musik negri ini harus terpuruk?
Masih adakah orang-orang yang peduli dengan kondisi musik lokal saat ini?
Harusnya perusahaan rekaman lebih pandai untuk memilah, mana band atau penyanyi pendatang baru yang layak di orbitkan atau tidak layak sama sekali? Jangan karena mementingkan bisnis musik semata. Karena bagaimana pun kualitas itu penting di bandingkan quantity.
Semoga ke depannya akan ada workshop tentang musik lebih banyak lagi. Karena sampai saat ini, sangat sedikit workshop atau seminar yang memberikan pencerahan tentang musik. Kalaupun ada, hanya dari orang-orang atau lembaga-lembaga musik independent tertentu yang mengadakan acara seperti itu. Dan mereka adalah orang-orang yang benar-benar peduli terhadap perkembangan musik.
Ayo...bangkit kembali musik Indonesia jangan terlalu lama bobroknya. Cukup negri ini saja yang bobrok, karena orang-orang yang memegang kekuasaan yang terlalu serakah jabatan dan harta.
Sudah kembali baik kah seperti era 90 atau semakin bobrok?
Entah siapa orang yang harus bertanggung jawab atas menurunnya kualitas musik lokal. Semakin banyaknya kehadiran musisi-musisi pendatang baru, harusnya bisa mengangkat kembali musik Indonesia yang sedang mengalami kebobrokan menjadi kembali baik. Dari segi kualitas maupun keamanan dan kenyamanan dalam bermusik. Bukan sebaliknya.
Memang benar banyaknya musisi-musisi pendatang baru, memberikan banyak warna musik di negri ini. Tapi itu justru membuat musik tersebut tidak punya karakter, karena hanya mengikuti trend di pasar industry musik. Dan kualitas musik Indonesia yang ada malah menurun drastis. Mereka lebih rela mengikuti permintaan pasar musik yang sedang booming dan rela menjual idealis bermusik demi materi dan ketenaran sebagai artis.
Acara-acara musik yang di siarkan setiap hari di waktu pagi di beberapa stasiun televisi, menambah daftar betapa bobroknya musik dalam negri saat ini. Sebagai acara musik di televisi harusnya memberikan tayangan dan liputan musik yang baik dan berbobot, semua tentang musik. Dari yang memberikan edukasi dari musik, pembahasan musik yang harusnya lebih banyak dan lebih mendalam sampai tentang perkembangan musik lokal maupun musik luar negri. Bukan membahas gosip dan kehidupan pribadi artis atau host yang membawakan acara tersebut. Karena ini acara musik, bukan acara gosip atau reality show apa lagi acara lawak yang tidak jelas. Kalau mau konsep acaranya seperti itu, lebih baik di ganti saja tema acaranya. Jangan mengusung konsep dan tema tentang musik.
Dan yang mengisi acara musik harusnya mereka yang benar-benar musisi, yang mengetahui seluk beluk tentang musik dari yang kecil hingga yang besar. Bukan artis sinetron yang sering tampil di stasiun televisi tersebut lalu mencoba menjadi penyanyi atau musisi. Belum lagi jam tayang di pagi hari, kadang saya merasa heran sama penonton yang ada di studio apakah mereka tidak sekolah atau tidak punya kegiatan lain di pagi hari?
Acara yang tidak memberikan pesan moral yang baik kok bisa ya punya rating siaran yang tinggi?
Lalu ada lagi di salah satu stasiun televisi swasta, yang mengadakan acara pencarian bakat anak dalam bernyanyi. Acara ini membuat saya kembali harus tertegun dan kecewa kepada stasiun televisi tersebut. Oke, acaranya tidak ada yang salah cuma sangat di sayangkan acara pencarian bakat bernyanyi kok jurinya seorang Mc yang juga komedian. Harusnya kan yang menjadi juri adalah orang yang berkecimpung langsung di bidang musik. Untung saja acara ini masih tertolong oleh dua orang juri lainnya yang kebetulan dua orang tersebut adalah musisi.
Televisi harusnya menjadi media yang tepat untuk kemajuan musik lokal, karena dari televisi masyarakat luas bisa melihat dan mendengar langsung tentang musik. Bukan membuat musik lokal semakin terpuruk. Dalam sebuah acara, sering kita mendengar penyanyi yang membawakan lagu secara lipsync. Dulu, mana ada penyanyi lipsync. Apakah lipsync keinginan dari penyanyinya langsung atau dari pihak televisi? Entahlah, hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang mengetahui. Karena lipsync itu sama saja kebohongan public.
Musik itu selalu menunjukan karakter dari musisinya. Seperti girl band atau boy band yang sedang menjamur sampai saat ini. Semua identik dengan K-Pop, sampai sulit untuk di bedakan mana girl band A dan mana girl band B?
Karena dari musik sampai ke tata rias wajah dan rambut sampai style busananya, semua benar-benar di buat sampai mirip dengan artis dan juga musik K-Pop. Lalu bagaimana kita sebagai penikmat musik dapat mengenal girl band tersebut dari lagunya maupun dari performnya saat berada di atas panggung?
Jujur, dulu saya sempat keliru saat melihat salah perform dari gilr band waktu itu yang lagi naik daun. Saya sempat mengira girl band yang lagi perform adalah 7 Icon, ternyata salah mereka adalah Cherrybhelle.
Terlepas dari masalah K-Pop, sebenarnya masih banyak masalah yang membuat kualitas musik negri ini semakin menurun. Salah satunya adalah trend musik. Demam musik band melayu pun sempat melanda. Awal kemunculan band musik melayu di mulai dari St12. Saat St12 meroket namanya dengan musik melayu yang mereka usung sebagai karakter musiknya, bermunculan band pendatang baru lainnya dengan warna musik sampai style yang sama persis dengan St12. Sungguh membuat saya semakin malas untuk mendengar musik lokal saat itu.
Ada Kangen Band, entah apa karena kasihan atau apalah saya tidak mengerti alasannya. Dan saat itu Kangen Band pun ikut meroket namanya, band asal Lampung ini berhasil masuk ke label rekaman mayor tebesar di negri ini. Padahal musisi-musisi yang memiliki kualitas musik yang mumpuni di negri ini sangat banyak, kalau mau di telusuri di youtube ataupun di souncloud. Kadang saya suka merasa prihatin dengan kondisi industri musik saat ini, lebih mementingkan musik yang sedang trend ketimbang kualitas dari musisinya.
Begitupun dengan penyanyi solo perempuan, sampai saat ini saya lebih suka penyanyi solo perempuan senior ketimbang penyanyi pendatang baru. Penyanyi pendatang baru lebih menonjolkan kecantikan untuk di jual dari pada kualitas vokal dan musiknya. Dulu, penyanyi yang eksis adalah penyanyi yang benar-benar punya kualitas musik yang tinggi sampai saat ini karya-karya mereka tetap enak untuk di dengar. Kalau sekarang penyanyi yang ada lebih banyak gaya dan sensasi dari pada prestasi. Beruntung sekarang masih ada Raisa dan Isyana Sarasvati, mereka memang lebih layak untuk menjadi musisi karena kualitasnya bukan karena kecantikannya.
Dan satu lagi masalah besar untuk industry musik di negri ini adalah pembajakan yang tak kunjung musnah. Pemerintah sampai saat ini sepertinya tidak pernah serius untuk memberantas kejahatan pelanggaran hak cipta ini. Sudah jelas pembajakan secara fisik sangat merugikan musisi lalu di tambah lagi pembajakan download lagu illegal, kejahatan massal dari kecanggihan teknologi. Membuat musisi menjadi tidak nyaman untuk berkarya, karena kejahatan pelanggaran hak cipta sampai saat ini pelakunya masih bebas berkeliaran.
Mau sampai kapan musik negri ini harus terpuruk?
Masih adakah orang-orang yang peduli dengan kondisi musik lokal saat ini?
Harusnya perusahaan rekaman lebih pandai untuk memilah, mana band atau penyanyi pendatang baru yang layak di orbitkan atau tidak layak sama sekali? Jangan karena mementingkan bisnis musik semata. Karena bagaimana pun kualitas itu penting di bandingkan quantity.
Semoga ke depannya akan ada workshop tentang musik lebih banyak lagi. Karena sampai saat ini, sangat sedikit workshop atau seminar yang memberikan pencerahan tentang musik. Kalaupun ada, hanya dari orang-orang atau lembaga-lembaga musik independent tertentu yang mengadakan acara seperti itu. Dan mereka adalah orang-orang yang benar-benar peduli terhadap perkembangan musik.
Ayo...bangkit kembali musik Indonesia jangan terlalu lama bobroknya. Cukup negri ini saja yang bobrok, karena orang-orang yang memegang kekuasaan yang terlalu serakah jabatan dan harta.
Comments
Post a Comment