RAIN : MIMPI DI UJUNG SENJA

Kata orang hidup itu di nikmati saja yang ada jangan terlalu tinggi dalam bermimpi. Jalani saja semua apa adanya katanya jangan terlalu berharap, karena nanti kamu akan kecewa.

Kedua orang tua ku memberi nama Rain yang artinya hujan. Aku tidak tahu apa alasan mereka memberiku nama Rain. Hingga aku akhirnya berasumsi sendiri, mungkin karena hidup itu selalu berderai air mata makanya aku di beri nama Rain. Tapi air hujan juga sumber kehidupan untuk manusia agar dapat bertahan dari kekeringan. Meski kata teman-teman ku nama itu tidak pantas untuk anak perempuan. Entahlah, tapi apalah arti sebuah nama.

Aku duduk sendiri dan memperhatikan setiap sudut dari sebuah bangunan yang ada di hadapan ku. Hingga saat ini aku masih merasa seperti mimpi, karena tidak terbayang sebelumnya hingga akhirnya aku bisa memiliki ini semua. Proses panjang yang aku lewati menahan getirnya sakit yang harus ku rasa, caci maki semua yang tidak menyenangkan harus ku kecap.

"Kak Rain, lihat apa yang aku bawa" Ujar bocah laki-laki kecil bertubuh kurus usianya baru menginjak 9 tahun, dia adalah Darsito biasa di panggil si Dar. Si Dar lalu mendekati yang sedang duduk di halte. Anak jalanan yang aku temui di sebuah parkiran mini market dekat tempat kerja ku.
Aku memperhatikan tangan kanan si Dar yang membawa sebuah bungkusan.
"Apa itu Dar?"
"Ini nasi bungkus aku beli dari rumah makan Padang untuk Kak Rain, ada ayam bakar juga perkedel".
"Aku akan menerimanya, tapi jawab pertanyaan ku dari mana uang yang kamu dapatkan untuk membeli makanan ini?"
"Aku kerja, Kak. Ambil ini Kak, pasti Kak Rain lapar habis pulang kerja karena belum makan".
"Kerja apa?".
"Hmmm...kerja sama bang Boni".
"Berarti kamu ikut mencopet di bis kota lagi?"
Darsito tidak menjawab, si Dar hanya menundukan kepala saja tidak menatap wajah ku yang sangat marah padanya. Bang Boni nama yang di sebut si Dar adalah bos dari kawanan pencopet bis kota. Si Dar dan teman-temannya harus mengikuti perintah orang yang bernama Boni, kalau mereka tidak mau menurutinya maka Boni CS tidak akan segan-segan untuk memukul mereka. Aku tau tentang Boni dari si Dar saat pertama kali aku menemukannya di depan mini market, wajah si Dar babak belur habis di pukuli oleh Boni. Akhirnya aku membawa si Dar agar tidak ikut dengan Boni, karena pekerjaan tersebut adalah kriminal dan membahayakan dirinya juga masa depannya.
"Dar, hentikan semua perbuatan mu. Kamu tau mencopet itu adalah kriminal, nanti kamu bisa di penjara. Kamu mau di penjara, di sana kamu tidak bisa melihat dunia yang indah?".
"Tidak mau Kak".
"Kalau kamu tidak mau, berhentilah dan mulai belajar untuk masa depan mu".
"Belajar itu berarti di sekolah, dari mana aku bisa sekolah aku tidak punya uang. Ibu bapak ku tidak tau keberadaannya".
"Dar, Kak Rain yang akan bantu kamu. Apa cita-cita kamu?".
"Sungguh?".
"Iya".
"Aku ingin menjadi musisi Kak, bisa bernyanyi dan bermain gitar menghibur Kak Rain juga semua orang". Ujar si Dar dengan semangat.
"Cita-cita mu sungguh hebat, untuk itu kamu harus belajar. Kak Rain dulu juga sama punya cita-cita seperti mu, karena malas belajar jadi tidak tercapai".
"Baik, Kak. Kalau begitu terimalah makanan ini Kak, anggap saja ini sebagai tanda terimakasih ku karena Kak Rain telah menolong ku waktu itu".
Untuk menghargai niat baik si Dar yang telah membelikan nasi bungkus dengan jerih payahnya, akhirnya aku menerimanya. Walaupun uang si Dar dapat dari hasil bagian mencopet.

Hari ini cuacanya sangat panas. Aku ijin pulang terlebih dahulu dari kantor untuk menemui si Dar. Aku sangat khawatir dengan keadaannya, si Dar pasti di pukuli oleh Boni CS karena tidak mau menuruti perintahnya mencopet lagi.

Dari lampu merah ke lampu merah yang lainnya, dari halte ke halte aku tidak menemui si Dar. Sampai akhirnya di sebuah gang kecil yang terdapat di pinggir jalan utama, aku melihat tiga orang laki-laki dewasa dengan tubuh besar penuh tato di lengannya sedang memukul seorang bocah laki-laki. Aku coba mendekatinya, aku perhatikan bocah itu dan ternyata si Dar.
"Woiii...berhenti".
Mereka pun berhenti dan menoleh ke arah ku.
"Siapa kamu, berani sekali menyuruh kami berhenti?" Tanya si laki-laki pertama yang wajahnya di penuhi oleh tindikan.
"Aku Rain. Lepaskan si Dar". Jawab ku dengan suara lantang.
"Oh, jadi kamu yang namanya Rain". Sahut si laki-laki yang kedua dengan tato di lengan kanannya.
"Iya, ada masalah?". Tanya ku semakin geram melihat tindakan mereka.
"Jelas ada, kamu telah membuat pemasukan kami berkurang". Jawab si laki-laki kedua itu sambil menunjukan telunjuknya ke wajah ku "Gara-gara kamu sekarang si Dar tidak mau mencopet lagi. Aku Boni, tidak akan membiarkan si Dar untuk mu" sambung laki-laki kedua tersebut yang bernama Boni.
"Tindakan kalian ini sudah melanggar hukum, aku akan melaporkan kalian ke polisi..."
Belum selesai aku berbicara, tiba-tiba saja ada suara sirine mobil polisi dan suaranya semakin mendekat ke arah kami. Tanpa di duga, suara sirine itu membuat geng pencopet ini kocar kacir lalu pergi dan melepaskan si Dar.
"Dasar pengecut, baru dengar suara sirine mobil polisi saja sudah lari". Teriak ku penuh emosi.
"Suara sirine itu bukan dari mobil polisi Kak, tapi dari mobil ambulance yang baru saja lewat...". Ujar si Dar dengan nada merintih menahan sakit.
"Oh, ya...hahaha". Aku tertawa mendengar penjelasan asal suara sirine tersebut ternyata dari mobil ambulance bukan mobil polisi yang sedang berpatroli "Dar, kamu tidak apa-apa?" Sambung ku saat melihat keadaan si Dar.
"Tidak Kak, hanya sedikit sakit di wajah ku". Jawab si Dar sembil merintih kesakitan.
"Ayo kita pergi dari tempat ini".
Aku segera memapah si Dar. Untung saja tubuhnya si Dar kurus jadi tidak terlalu berat saat ku memepahnya. Aku membawa si Dar ke sebuah tempat yang lebih layak untuk menjadi tempat tinggal. Sebuah rumah kontrakan tiga petak yang sengaja aku sewa untuk si Dar agar tidak tidur di kolong jembatan lagi. Tidak terlalu besar, tapi setidaknya ini lebih baik.
"Kak Rain, terimakasih sudah menolong ku lagi. Aku selalu merepotkan Kak Rain".
"Iya sama-sama Dar. Sekarang kamu istirahatlah" Ujar ku sambil mengobati luka si Dar.

Malam semakin larut, aku harus segera pulang karena Bapak pasti khawatir dengan keadaan ku. Tapi tidak mungkin aku pulang meninggalkan si Dar sendiri yang sedang terluka. Aku menghubungi bapak, memberitahu bahwa malam ini aku tidak pulang karena ada pesta ulang tahun teman kantor ku. Dan untung saja bapak percaya dengan ucapan ku.

Si Dar tertidur sangat lelap sekali walau hanya beralas kasur lipat yang ku beli kemarin malam. Kasihan anak seusia si Dar sudah terjerumus ke dalam perbuatan kriminal yang tidak seharusnya terjadi. Besok pagi aku akan mendaftarkan si Dar sekolah.

"Dar, ayo lekas bersiap-siap. Hari ini aku akan mendaftarkan kamu sekolah".
"Serius Kak?"
"Iya".
"Hore....aku akan sekolah". Ujar si Dar sambil lompat kegirangan.

Memberikan kebahagiaan untuk orang lain adalah hal terindah dalam hidup ku. Sejak hari itu aku memutuskan untuk mengasuh anak-anak jalanan agar tidak lagi terjerumus ke dalam lembah hitam. Si Dar tidak hanya sekolah, tapi aku memasukannya ke dalam sekolah musik agar cita-citanya si Dar menjadi musisi tercapai, lebih tepatnya adalah gitaris.

Semakin hari jumlah anak jalanan yang ku tampung di rumah sewa semakin meningkat, kini ada empat orang anak yang benar-benar ingin belajar dan mereka semua adalah teman-teman si Dar usianya tidak terlalu jauh dari si Dar. Kalau dengan Darsito jumlahnya ada lima orang. Tiga orang di antarnya adalah anak perempuan, mereka adalah Nurma, Lala dan Sila. Yang laki-laki Darsito dan Erwin. Rumah kontrakan yang aku sewa ini semakin sempit dengan bertambah jumlah penghuninya. Sampai pemilik rumah kontrakan itu mengusir kami untuk segera keluar dari tempat itu. Karena jumlah kami terlalu banyak dan di anggap telah mengganggu ketenangan penghuni yang lainnya.

Aku sudah berusaha untuk mencari tempat tinggal yang baru untuk mereka. Sampai akhirnya aku mendapatkan sebuah rumah yang di jual dengan harga murah di pinggiran sungai Ciliwung. Rumah itu tidak terlalu besar, tapi ini lebih baik dan lebih layak untuk jadi tempat tinggal kami. Setidaknya mereka dapat merasakan kenyamanan tinggal di rumah ini, meski aku harus mengambil uang tabungan ku.
"Aku suka sekarang kita berada di tempat yang baru". Ujar Nurma sambil merebahkan tubuh mungilnya di atas lantai.
"Iya, aku juga. Sekarang kita sudah aman dan tidak di paksa untuk mengemis atau mencopet lagi sama bang Boni". Sahut Sila.
"Sekarang kita jadi satu keluarga dan kita punya Kak Rain". Ujar Lala.
Aku senang bisa melakukan hal ini untuk mereka. Aku seperti bisa melihat sebuah harapan baru dari sorot mata bocah-bocah malang tidak berdosa tersebut. Mereka pun punya mimpi untuk hidup bahagia bersama keluarganya. Sampai aku melupakan hidup ku sendiri buat ku itu tidak masalah.

Aku memberikan mereka belajar tambahan saat libur sekolah tiba. Tidak hanya untuk mereka saja, tapi juga untuk anak-anak tidak mampu yang ada di sekitar kami tinggal.
"Erwin, di mana si Dar?"
"Si Dar ada di depan Kak, sedang main gitar". Jawab Erwin sambil membolak balik buku yang sedang di bacanya.
"Erwin, tolong yang lain di suruh kumpul ya kita akan segera mulai pelajarannya".
"Baik Kak".
Selang 10 menit semua sudah berkumpul untuk mengikuti pelajaran tambahan yang aku berikan. Pelajaran tambahan yang selalu ku berikan adalah pelajaran seni, dan hari ini aku akan mengenalkan seni melukis.

Semua berjalan dengan lancar, aku merasa bangga dengan perkembangan lima anak-anak ini. Sampai akhirnya tercetus sebuah ide untuk memberikan nama pada rumah yang kami tempati yaitu "Rumah Pelangi". Agar rumah ini selalu indah dan penuh warna warni kebahagiaan seperti pelangi.

Aku merasa sudah tidak bisa membagi waktu antara bekerja dan mengurus anak-anak rumah pelangi ku. Dan minggu akhir pertengahan tahun aku memutuskan mengundurkan diri dari tempat ku berkerja. Lalu untuk terus menghidupkan rumah pelangi dan anak-anak aku bekerja serabutan asal punya waktu lebih banyak untuk mengurus mereka dan mengembangkan rumah pelangi untuk menjadi tempat singgah yang nyaman bagi anak-anak yang tidak mampu untuk mewujudkan mimpinya. Apa saja pekerjaan itu aku ambil, agar mereka tidak terlantar seperti dulu lagi. Dan mereka mempunyai masa depan yang lebih baik, karena mereka berhak bahagia.

Akhirnya keputusan ku mengundurkan diri dari pekerjaan sampai juga di telinga bapak. Aku pulang ke rumah untuk mengambil beberapa buku untuk ku simpan di rumah pelangi. Tapi yang terjadi adalah pertengkaran dengan bapak, laki-laki paruh baya yang telah membesarkan ku seorang diri semenjak ibu meninggal 10 tahun yang lalu saat usia ku 14 tahun.
"Kenapa kamu mengundurkan diri?" Tanya Bapak dengan nada tinggi.
"Aku sudah tidak nyaman bekerja di sana". Jawab ku dengan nada datar.
"Jangan bohong, Bapak mu ini tidak pernah mengajarkan anak-anaknya berbohong". Kali ini Bapak berbicara dengan nada yang lebih tinggi lagi.
"Aku ingin fokus mewujudkan mimpi ku".
"Mimpi yang mana? Mimpi kamu atau mimpi anak-anak jalanan itu?". Gertak Bapak memecahkan hening malam.
"Mimpi mereka adalah mimpi ku, Pak". Ujar ku sambil menundukan kepala.
"Lebih baik kamu selesaikan skripsi mu lalu menikahlah, dari pada kamu mengurus anak-anak jalanan itu tidak dapat apa-apa".
"Pak, tolong mengertilah kali ini saja biarkan aku memilih jalan hidup ku".
Bapak tidak menjawab apa-apa lagi, lalu pergi meninggalkan ku di ruang keluarga. Aku berpikir mungkin bapak sudah mengerti dengan keinginanku. Dan aku pun segera pergi menuju ke rumah pelangi.

Semakin hari aku menyukai dunia ku, tidak ada beban dan bisa menjadi diri ku sendiri. Bebas melakukan yang aku suka, anak-anak itu adalah penerus bangsa ini harapan masa depan.
"Hayoo...siapa yang hapal lagu Indonesia Raya?".
"Aku, Kak". Sahut si Dar.
Lalu Erwin menimpali tidak mau kalah dari si Dar "Aku juga hapal, Kak".
"Oke, kalau begitu kalian berdua maju dan nyanyikan lagu Indonesia Raya".
"Siap". Sahut si Dar dan Erwin bersamaan dan bersemangat, lalu melangkah maju.
Si Dar yang bermain gitar dan Erwin yang bernyanyi. Anak-anak yang lainnya pun bersorak bahagia lalu memberikan tepuk tangan sambil ikut bernyanyi. Saat aku sedang menikmati petikan gitar si Dar dan suara Erwin yang sedang bernyanyi, tiba-tiba saja di kejutkan oleh kedatangan bapak. Dan bapak mendekati ku, lalu menarik lengan ku untuk keluar dari rumah pelangi. Kejadian itu di saksikan oleh anak-anak yang ada di situ.
"Pak, tolong lepaskan tangan Rain". Ujar ku merintih kesakitan.
"Tidak akan, kamu harus pulang".
Bapak memaksa ku masuk ke dalam mobil, aku tidak bisa berbuat apa-apa karena bapak di bantu oleh beberapa orang pegawainya. Aku hanya bisa menangis dan kecewa kepada bapak. Di perjalanan menuju rumah, bapak tidak berhenti memarahi ku. Aku hanya diam saja hingga sampai di rumah.
"Apa mau mu, kamu sudah tidak menghargai bapak mu lagi".
"Maafkan aku, Pak. Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu".
"Simpan kata maaf mu, aku kecewa pada mu dan aku malu karena gagal mendidik mu. Anak orang yang terpandang tapi kok rendah, malah tinggal sama anak jalanan".
"Pak, kita semua itu sama di mata Tuhan. Anak-anak jalanan punya hak yang sama dengan kita. Mereka berhak hidup lebih baik dan mendapatkan kebahagiaannya".
"Jangan ceramah depan bapak mu, sana masuk kamar mu".
Orang-orang pegawai bapak ku, mereka memaksa ku masuk ke dalam kamar ku yang berada di lantai dua. Lalu mengunci ku dari luar kamar, dan aku pun terkurung. Bagaimana dengan nasib anak-anak rumah pelangi jika aku tidak segera keluar dari tempat terkutuk ini?. Pikiran ku menjadi semakin tidak tenang, hati kecil ku terus bergumam.

Hari demi hari tidak terasa sudah satu minggu aku berada dalam keadaan terkunci di kamar ku sendiri. Orang-orang di rumah ini seperti sudah tidak punya hati nurani. Aku terus mencari cara untuk keluar dari tempat ini, jika tidak segera keluar bagaimana nasib anak-anak rumah pelangi ku?

"Dar, kamu tau alamat rumah Kak Rain?". Tanya Erwin.
"Aku tidak tau". Jawab si Dar dengan suara datar.
"Kamu mengenal Kak Rain terlebih dahulu dari pada kita, kenapa tidak tau rumah Kak Rain?" Tanya Erwin lagi dengan nada tinggi.
"Aku tidak tau karena Kak Rain tidak pernah mengajak ku datang ke rumahnya". Jawab si Dar dengan nada yang sedikit mulai emosi.
"Sudah, kalian jangan bertengkar. Kita harus memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Kak Rain lagi". Ujar Nurma.
"Betul kata Nurma. Kita juga tidak tau keadaan Kak Rain saat ini dan apa yang terjadi". Sahut Sila.
"Stok makanan kita sudah habis, kita juga tidak punya uang untuk membeli makanan". Ujar Lala menimpali ucapan Sila.
"Baik, kita pikirkan ini sama-sama dan terus berdoa untuk Kak Rain semoga bauk-baik saja". Ujar si Dar.
"Kalau sampai besok Kak Rain belum juga datang lagi ke sini, aku akan kembali lagi ikut Bang Boni. Aku tidak mau mati kelaparan di sini...". Celetuk Erwin sembil berlalu meninggalkan rumah pelangi.
"Erwin, kamu mau kemana?". Tanya Lala dengan suara kencang. Tapi Erwin tidak menjawabnya, Erwin terus melangkah keluar meninggalkan rumah pelangi.

Malam semakin mencekam dan menunjukan keberingasan dari gelapnya. Waktu tidak pernah berhenti, air mata terus berderai. Mata ku semakin terasa berat, tapi aku tidak juga terlelap. Di luar sana ada lima orang anak-anak yang menanti kedatangan ku. Aku tau semua tindakan ku tidak pernah ada ijin dari bapak. Bapak sangat menginginkan aku menjadi seorang sarjana ekonomi seperti kakak-kakak ku dan adik ku. Aku memang bukan anak yang dapat di banggakan. Tapi aku punya mimpi dan cita-cita. Rumah Pelangi adalah impian ku sejak kecil. Aku jadi teringat lirik lagu Sebuah Harapan yang di nyanyikan oleh Tere, seorang penyanyi berbakat bersuara merdu dan unik "Tapi ku yakin sebuah harapan, yang menuntun ku melangkah", iya semoga harapan menuntunku keluar dari tempat ini.

Malam ini seperti berpihak padaku, aku melihat dari balik jendela kamar ku. Tidak sepertj biasanya di luar sana tidak ada orang yang berjaga. Aku gunakan kesempatan ini untuk pergi dari rumah. Aku keluar dari jendela, meski pun harus melompat karena kamar ku berada di lantai dua menurut ku tidak terlalu tinggi. Jika aku melompat, paling hanya kaki saja yang terkilir.

"Aku lapar sekali". Gumam Sila sambil merengek dan memegang perutnya menahan lapar.
"Lebih baik kamu tidur, nanti lapar mu pasti hilang". Celetuk Nurma.
"Bagaimana aku bisa tidur, kalau dalam keadaan lapar?". Gertak Sila pada Nurma.
"Sabar ya Sila, aku akan pergi keluar untuk mengamen. Nanti hasilnya akan ku belikan nasi bungkus untuk kita makan bersama". Sahut si Dar sambil mengelus rambut Sila.
"Makanlah roti ini, Sila". Kata Nurma sambil menyodorkan sebuah roti ke arah Sila.
"Aku tidak mau makan roti, aku hanya ingin makan nasi". Sahut Sila.
"Sila, kamu lupa kata Kak Rain? Kak Rain pernah bilang kalau kita itu harus mensyukuri yang kita punya, termasuk roti ini karena hanya ini yang kita punya jadi makanlah". Ujar Lala lalu meraih roti dari tangan Nurma dan memberikannya kepada Sila.
"Makanlah roti itu, karena roti itu milik mu. Hanya kamu yang belum makan dari sore hari, untuk pengganjal perut saja nanti aku bawakan kamu nasi bungkus". Sambung si Dar yang sedang mempersiapkan gitarnya untuk mengamen.
"Baiklah". Ujar Sila lalu mengambil roti dari Lala dan memakannya dengan lahap.
"Kalian tenang saja aku pasti membawa makanan untuk kalian. Aku juga akan mencari Erwin dan membawanya pulang...". Ujar si Dar sambil barjalan keluar membawa gitar kesayangannya.

Malam semakin larut, sepi tak lagi bertuan. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Langkah kaki yang semakin gontai, menahan segala rasa sakit tak terkira. Hanya mimpi dan harapan yang menjadi kekuatan, hingga akhirnya aku sampai di rumah pelangi.
"Nurma, Sila, Lala..." Aku langsung memeluk mereka, betapa aku sangat merindukan anak-anak ini.
"Kak Rain...." Ujar Nurma, Sila dan Lala dan menyambut pelukan Rain.
"Kalian baik-baik saja kan?"
"Iya Kak, kami baik-baik saja". Sahut Lala.
"Kak Rain kemana saja?". Tanya Sila. "Kami takut Kak..." Sambung Nurma.
"Maafkan Kak Rain ya, satu minggu meninggalkan kalian. Tapi Kak Rain janji tidak akan meninggalkan kalian lagi". Ujar ku dengan terbata-bata "Di mana si Dar dan Erwin?". Sambung ku saat tersadar bahwa ada yang kurang.
"Si Dar pergi mengamen agar bisa mendapatkan uang untuk memebelikan kami nasi bungkus. Kalau Erwin, dia pergi sejak tadi siang. Kami tidak tau dia kemana, dia hanya berkata akan kembali ke bang Boni kalau Kak Rain tidak kembali karena dia tidak mau mati kelaparan". Sahut Nurma menjelaskan apa yang terjadi.
Aku senang bisa kembali lagi ke tempat ini. Kami melepas rindu sambil bercengkrama dan saling melempar tawa bahagia. Meski pikiran ku menjadi kacau saat mendengar nama Boni, jangan sampai Erwin kembali bekerja dengan Boni. Karena itu sangat berbahaya.
"Kak Rain bawakan ini untuk kalian, ambil dan makanlah". Ujar ku sambil memberikan nasi bungkus yang aku beli tadi saat dalam perjalanan. "Itu ada lima bungkus, sisa dua bungkus untuk si Dar dan Erwin". Sambung ku.
"Iya Kak". Sahut Sila langsung mengambil bungkusan itu dari Rain.
Mereka langsung membuka nasi bungkus tersebut dan memakannya sangat lahap. Aku bahagia bisa melihat mereka lagi, senyum dan kepolosan mereka yang apa adanya tumbuh bersama mimpi yang tidak terbatas.

"Nurma, buka pintunya aku sudah pulang". Suara si Dar dari luar dan terus menggedor pintu untuk segera di buka.
Aku sudah hampir terlelap karena lelah pun terbangun, lalu membukakan pintu untuk si Dar. Dan si Dar pun terkejut saat melihat ku ada di hadapannya.
"Kak Rain, aku kira Nurma...". Ucapnya pelan.
"Dar, masuklah dan segera istirahat". Kata ku dengan nada datar.
"Kak Rain, aku bawa makanan". Ujar si Dar sambil menyodorkan sebuah bungkusan plastik berisi makanan kepada ku dan berjalan di belakang ku.
"Kamu sudah makan?". Aku bertanya balik kepada si Dar.
Si Dar hanya menggelengkan kepala saja, yang mengartikan bahwa dia belum makan. Lalu si Dar berkata "Aku beli makanan ini dari hasil mengamen, bukan mencopet Kak".
"Iya, Kak Rain mengerti. Kalau begitu kita makan-makan sama".
Aku tidak bertanya apa-apa lagi pada si Dar. Karena ini sudah larut malam jadi lebih baik kami beristihat dan besok pagi aku akan bertanya pada si Dar tentang kejadian selama aku tidak ada di rumah pelangi.

"Pagi Kak Rain". Sapa Sila dengan senyum manisnya menunjukan kepolosan seorang anak.
"Pagi juga Sila". Jawab ku sambil menahan rasa kantuk yang belum juga hilang. Lalu mengambil segelas air putih.
"Kak Rain..." Sapa si Dar terbata-bata.
"Hai Dar, kebetulan sekali kamu sudah bangun. Kak Rain mau tanya apa kamu sudah bertemu dengan Erwin?".
Si Dar menunduk, wajahnya begitu murung saat aku menanyakan Erwin "Aku belum bertemu Erwin, kemarin dia pergi sampai pagi ini belum kembali".
"Ya sudah kalau begitu kamu ikut aku cari Erwin".
"Baik Kak...".

Pagi itu aku segera mencari Erwin bersama si Dar. Tujuan kami yang pertama adalah lampu merah dekat halte busway tempat Erwin biasa untuk memulai operasi mencopet. Tapi di sana tidak ada, lalu ada seorang anak jalanan yang menghampiri si Dar. Anak itu teman Erwin dan si Dar, dia memberitahu bahwa Erwin ada di halte dekat terminal bis kota sedang sakit. Aku dan si Dar segera menuju ke halte tersebut, ternyata yang di katakan anak itu benar. Aku mendapatkan Erwin pingsan di halte tersebut, panasnya sangat tinggi tapi tidak ada seorang pun yang menolong Erwin.
"Dar, Kalau ada taksi yang lewat tolong kamu berhentikan taksinya". Ujar ku sambil mengangkat tubuh Erwin yang lebih berat dari si Dar.
"Baik Kak..."
Setelah lima menit menunggu akhirnya ada taksi yang melintas. Aku segera menuju rumah sakit untuk menolong Erwin secepatnya. Sampai di rumah sakit, Erwin segera di larikan ke UGD. Aku sangat khawatir dengan keadaan Erwin. Akhirnya dokter yang memeriksa Erwin keluar ruangan.
"Dok, bagaimana keadaan adik ku?".
"Dia tidak apa-apa, hanya kondisinya yang lemah karena kurang asupan saja dan perlu istirahat".
Saat aku sedang berbicara dengan dokter yang merawat Erwin, aku melihat bapak ada di rumah sakit ini sedang berbicara dengan bagian adminstratif rumah sakit. Entah apa yang sedang bapak lakukan, aku tidak mau kalau bapak sampai melihat ku ada di rumah sakit yang sama dengan bapak. Aku segera pergi menghindar, agar bapak tidak melihat ku dan  memaksa ku pulang.
"Dar, kamu tunggu di sini. Kak Rain pergi dulu sebentar nanti segera kembali". Aku segera berlari ke luar rumah sakit. Aku melihat beberapa orang pegawai bapak yang mengetahui keberadaan ku saat akan keluar dari rumah sakit. Mereka mencoba mengerjar ku, tapi Bapak menahannya.

Sampai keadaannya aman, aku segera kembali ke rumah sakit.
"Dar, bagaimana keadaan Erwin?".
"Erwin sudah sadar Kak, kata dokter sudah boleh pulang.
Aku lalu membayar biaya administratif rumah sakit. Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, aku segera membawa Erwin kembali ke rumah pelangi.

"Kak Rain, itu ada apa ramai-ramai di rumah pelangi?" Ujar si Dar menunjuk ke orang-orang yang berpakaian seragam Satpol PP yang berada di rumah pelangi. "Itu Nurma, Sila, Lala juga kenapa menangis?" Sambung si Dar.
Aku mempercepat langkah ku untuk segera sampai di rumah pelangi.
"Maaf, Pak ini ada apa ya?" Tanya ku kepada salah satu petugas Satpol PP tersebut.
"Kami ini bertugas untuk meratakan bangunan-bangunan liar yang berada di pinggiran sungai Ciliwung". Jawab petugas Satpol PP tersebut.
"Apakah rumah ini termasuk yang akan di ratakan?" Tanya ku lagi sambil menunjuk ke rumah pelangi.
"Iya betul".
"Pak, ini bukan bangunan liar. Aku membelinya dan ada sertifkat hak milik atas tanah dan bangunan".
"Tapi ini adalah tanah milik pemerintah. Sertikat yang kamu dan warga-warga sini miliki semua adalah palsu".
"Tidak bisa Pak. Bapak tidak bisa menghancurkan rumah kami begitu saja". Aku sudah mulai tersulut emosi.
"Kamu tidak punya hak untuk melarang kami. Kami akan tetap menghancurkan bangunan liar yang ada di pinggir sungai ciliwung. Kami beri waktu satu minggu untuk segera mengosongkan tempat ini". Sahut petugas Satpol PP tersebut lalu pergi meninggalkan rumah pelangi.
"Kak Rain, kita akan tinggal di mana lagi kalau rumah ini di hancurkan?" Tanya Lala terbata-bata oleh isak tangis.
"Kalian semua tenang dan jangan takut, Kak Rain akan berusaha untuk mendapatkan rumah baru secepatnya. Kalian harus kuat yang paling penting adalah belajar untuk masa depan, sekarang masuk ke dalam baca buku pelajaran kaliang masing-masing. Erwin, kamu harus istirahat total".
Mereka pun segera masuk ke dalam mengikuti perintah ku. Aku lalu terdiam sejenak di teras rumah pelangi, apa yang harus aku lakukan. Aku merasa tertipu membeli rumah ini. Aku sudah tidak punya uang lagi untuk membeli rumah, paling hanya sanggup untuk menyewa sebuah rumah kontrakan petakan seperti dulu. Saat ku alihkan pandangan ku ke ujung jalan, aku melihat seseorang seperti sedang mengintai ku. Saat aku memergoki siapa dia, dengan cepat dia berlari.

Aku lalu pergi ke ATM terdekat untuk mengecek saldo tabungan ku. Oh, saldo tabunganku sudah sangat menipis ini hanya cukup untuk biaya makan anak-anak rumah pelangi selama dua minggu. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan. Saat perjalanan menuju pulang ke rumah pelangi, aku melihat sebuah pengumuman agen koran sedang membutuhkan seorang loper koran. Aku coba melamar pekerjaan tersebut, dan pemilik agen koran tersebut akhirnya menerima ku hanya bermodal kartu identitas saja. Besok pagi aku sudah bisa bekerja sebagi loper koran.

Sudah hampir satu minggu aku menjalani profesi baru ku sebagai loper koran. Kebetulan esok hari aku di berikan waktu libur, jadi bisa ku gunakan waktu lebih tersebut untuk memberikan pelajaran tambahan seperti biasa, mengenai seni juga tentang moral. Aku segera menyiapkan materi untuk di pelajari esok hari si rumah pelangi.

"Ayooo...kumpul-kumpul kita belajar. hari ini Kak Rain mau kasih kalian pelajaran baru. Tentang tolong, terimakasih, maaf...sebuah pesan moral dari lagu anak-anak yang berjudul Tiga Kata Ajaib". Seru ku.

Semua sudah berkumpul kecuali Sila yang tadi pamit sebentar untuk keluar, tapi ada yang beda karena ada wajah baru yang pertama kali aku lihat di rumah pelangi. Dia anak perempuan masih sangat kecil, sudah ku pastikan anak ini usianya lebih muda dari lima anak rumah pelangi lainnya.
"Halo, nama kamu siapa?"
Anak itu tidak menjawab pertanyaan ku, dia terlihat sangat takut saat aku menghampirinya.
"Kak Rain, dia namanya Zahwa baru berusia 6 tahun. Tadi pagi jam 6 saat aku mau buang sampah, aku menemui Zahwa ada di depan jalan sana sedang menangis. Lalu aku ajak ke sini, tapi aku lupa memberitahu Kak Rain..." Sahut Erwin.
"Oh jadi nama kamu, Zahwa. Kamu tidak perlu takut pada ku, aku akan menjaga mu. Di mana orang tua mu?".
Zahwa tidak menjawab, dia malah menangis. Lalu Erwin yang menjawab pertanyaan ku "Zahwa korban penculikan Kak, kemarin dia sedang bermain di mall sama ibunya lalu dia terpisah dari ibunya lalu di bawa oleh laki-laki yang mengaku pamannya. Kata Zahwa tadi waktu penculiknya sedang tidur, Zahwa keluar mobil terus lari...".
Tiba-tiba Sila datang dengan nafas terengah-engah.
"Kak Rain..." Sila berteriak dari depan pintu.
"Sila, kamu kenapa?". Tanya ku sedikit heran melihat wajah Sila.
"Kak Rain, mereka datang lagi bawa mobil besar untuk menghancurkan rumah-rumah yang ada di sini..."
Lalu aku melihat ke arah luar, astaga aku lupa kalau hari ini rumah kami akan di hancurkan. Petugas Satpol PP sudah datang lengkap dengan membawa mobil forklift besar untuk menghancurkan bangunan.
"Pak, aku mohon tolong beri kami waktu satu minggu lagi untuk sampai dapat tempat baru untuk kami berteduh". Ujar ku dengan wajah memelas.
"Tidak bisa. Kami harus segera menghancurkan bangunan-bangunan liar di pinggir sungai Ciliwung sekarang juga. Cepat kemasi barang-barang kalian sekarang juga".
"Pak, tapi tidak mudah untuk mendapatkan tempat baru untuk berteduh. Tolong Pak, aku mohon..." Aku bersujud di hadapan salah satu petugas Satpol PP tersebut, tapi mereka tidak peduli.

Petugas Satpol PP tersebut, terus melakukan tugasnya. Satu-persatu bangunan di hancur kan. Beberapa warga yang belum mendapatkan rumah baru, harus rela melihat rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh paling nyaman di hancurkan. Anak-anak rumah pelangi ku menangis, warga-warga sekitar pun banyak yang protes tapi tidak di hiraukan oleh petugas. Sungguh kejam sekali hidup di negri ini.

Satu persatu bangunan itu di hancurkan. Aku masih tertunduk lemah tak berdaya, ketika petugas Satpol PP menghancurkan rumah pelangi impian ku. Air mata ku terus mengalir, aku tidak memikirkan nasib ku tapi yang ku pikirkan adalah nasib anak-anak rumah pelangi. Mereka punya mimpi, mereka punya cita-cita. Seketika mimpi itu sirna. Aku terus menangis, tak peduli di sekitar ku. Hingga ada salah satu bangunan yang rubuh akan menimpa ku, aku tidak mengetahuinya. Aku hanya mendengar suara Erwin yang berteriak.
"Kak Rain....awas..."
Lalu tiba-tiba datang seorang laki-laki paruh baya yang mendorong ku hingga aku tersungkur dan tubuhku sedikit terluka, dia menyelamatkan nyawa ku dari runtuhan bangunan tersebut. Akhirnya runtuhan bangunan tersebut menimpa dirinya. Aku segera bangun dan menghampiri laki-laki yang telah menyelamatkan ku. Di bantu oleh orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian, aku menarik tubuh laki-laki paruh baya itu dari tumpukan runtuhan bangunan ternyata.

Bagai mimpi di siang bolong, ternyata laki-laki paruh baya yang telah menyelamatkan ku adalah Bapak. Tangis ku pun semakin pecah.
"Bapak....." Hanya itu yang sanggup aku katakan.
Petugas Satpol PP dan warga sekitar coba membantu ku. Salah satu petugas Satpol PP segera mengecek denyut nadi jantung Bapak.
"Dia masih hidup, dia hanya tidak sadarkan diri. Ayo, cepat bawa Bapak ini ke rumah sakit sebelum terlambat". Kata petugas Satpol PP tersebut.

Aku terus menangis, aku tidak menyangka Bapak rela mengorbankan nyawanya untuk ku. Selama ini aku sering membantah Bapak, aku belum bisa menjadi anak yang seperti Bapak harapkan. Aku sering berulah hanya demi mewujudkan mimpi ku, kabur dari rumah sering sekali aku lakukan.

Sampai di rumah sakit, bapak langsung di berikan pertolongan pertama di ruang UGD. Aku tidak di perbolehkan masuk oleh dokter dan perawatnya, aku menunggu di depan pintu UGD sambil terus menangis.
"Kak Rain, jangan sedih ya". Ujar si Dar.
Aku baru sadar sejak kejadian tadi, aku tidak melihat anak-anak rumah pelangi ku. Di sini yang ada hanya si Dar.
"Dar, yang lain mana?". Tanya ku sambil menghapus air mata ku.
"Mereka ada Kak. Kak Rain tidak perlu khawatir ada salah satu yang baik hati untuk menjaga kami sampai keadaannya kembali baik". Jawab si Dar.
"Syukurlah kalau begitu".

Hari sudah hampir senja, tapi belum juga ada kabar dari dokter mengenai perkembangan bapak. Entah sudah berapa kali aku mondar mandir di depan ruang UGD seperti orang bingung. Sampai akhirnya dokter yang aku tunggu keluar juga, segera aku menghampirinya.
"Dokter, bagaimana keadaan bapak ku?".
"Beliau belum sadar, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Berdoalah agar datang keajaiban untuk beliau". Lalu dokter itu pergi.
Dan aku segera masuk ke dalam ruangan melihat kondisi bapak. Di tubuhnya tidak ada luka, kenapa bapak bisa tidak sadarkan diri?

Aku duduk di samping bapak yang sedang terbaring, pandangan ku terus menatap laki-laki penyelamat ku. Wajahnya yang sudah mulai keriput, usianya yang sudah tak lagi muda tapi dia sangat menyayangi ku. Air mata ku tidak terasa jatuh dan menetes tepat di atas lengan bapak, aku lalu mengusap lengan kanan bapak. Dan ternyata tangannya memberikan respon, aku sangat bahagia karena ini pertanda baik.
Lalu bapak membuka matanya dan berkata "Rain, jangan bersedih apapun yang terjadi kamu harus kuat".
"Bapak sudah sadar. Sebentar ya pak, Rain panggil dokter dulu". Saat beranjak dari duduk ku untuk memanggil dokter, tiba-tiba saja tangan bapak menahan ku untuk tidak pergi.
"Tidak perlu. Bapak hanya ingin mengatakan sesuatu pada mu". Lalu bapak terdiam sejenak, sepertinya bapak merasa haus.
Segera ku berikan segelas air putih untuk bapak. Dan bapak melanjutkan perkataannya lagi dengan terbata-bata.
"Rain, kamu mimpi bapak di ujung senja. Bapak berharap kamu bisa membawa toga sarjana untuk bapak di saat senja datang. Tapi, sekarang bapak mengerti keinginan mu. Bapak bangga memiliki Rain yang berhati mulia". Bapak kembali terdiam matanya menerawang ke atas, seperti ada sesuatu yang di cari.
"Bapak, jangan bicara apapun sekarang yang penting bagi Rain adalah bapak kembali sehat. Rain janji akan menuruti semua keinginan bapak, termasuk meninggalkan rumah pelangi Rain yang sudah..."
Belum selasai aku berbicara, bapak sudah memotong pembicaraan ku.
"Sttt....tidak perlu, Bapak sudah tau semuanya. Karena bapak orang yang waktu itu mengintai mu, kamu lanjutkan rumah pelangi mu. Bapak sudah tau apa yang terjadi, lanjutkan dan raihlah mimpi mu, Rain. Bapak sudah siapkan yang kamu perlukan untuk membangun kembali rumah pelangi mu, ini ambilah...". Seru Bapak memberikan sebuah cek dengan jumlah yang besar pada ku. Bapak menyimpan cek tersebut di kantong celananya.
"Pak, ini jumlahnya sangat besar. Rain tidak butuh ini. Rain butuh bapak kembali sehat...". Ujar ku sambil menangis sambil ku perhatikan wajah bapak yang semakib pucat, nafas yang tidak teratur membuat ku takut kehilangan.
"Gunakan ini karena bapak tidak lagi bisa melindungi mu. Berjanjilah pada bapak, jika mimpi dan cita-cita mu sudah terwujud, tepatilah mimpi bapak yang berada di ujung senja ini".
"Iya pasti, Rain akan tepati..."
"Selesaikan skripsi dan menikahlah, Rain....". Suara Bapak semakin menghilang, deru nafasnya tidak lagi aku rasakan. Alat monitor jantungnya pun berada lurus.
Aku segera berteriak memanggil dokter dan suster. Mereka lalu datang memeriksa denyut nadi hingga detak jantung bapak. Tapi semua usaha sia-sia, karena bapak harus pergi untuk selamanya...

Aku seperti kehilangan arah, aku merasa tak lagi berarti. Aku harus menepati janji ku pada bapak, tapi untuk apa jika bapak tidak ada di dunia ini. Jiwa ku terguncang hebat sejak kepergian bapak, harusnya itu terjadi pada ku bukan pada bapak. Harusnya bapak tidak perlu datang menemuiku hanya untuk memberikan sebuah cek, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aku terus menyesali diri ku.

Sampai akhirnya aku kembali memiliki semangat baru, ketika si Dar datang pada ku membawa sebuah piagam penghargaan musik. Lalu aku kembali menemukan jati diri ku lagi, aku bangun lagi mimpi itu dari awal. Dan ku gunakan cek pemberian bapak untuk mendirikan rumah pelangi di sebuah tempat yang lebih baik dan lebih layak dari sebelumnya. Perlahan nama "Rumah Pelangi" pun terdengar hingga ke masyarakat luas.

Tidak terasa sudah 15 tahun berlalu, kenangan itu masih tersimpan rapih hingga aku mampu mengenangnya dengan baik. Anak-anak penghuni "Rumah Pelangi" kini sudah mencapai lebih dari 40 orang. Si Dar dan Erwin kini berhasil mencapai cita-citanya dan mereka pun salah satu donatur rumah pelangi. Mereka membuat duo grup musik yang terkenal, semua karena keteguhan dan kerja keras yang sungguh-sungguh. Nurma, Sila, dan Lala membantu ku mengurus "Rumah Pelangi".

"Kak Rain, aku mencari Kakak ke sana kemari ternyata Kakak sedang duduk di taman. Ayo, Kak yang lain sudah menunggu...". Ujar si Dar yang sudah dari tadi memanggil ku "Kak Rain, kenapa melamun?". Sambung si Dar.
"Kak Rain hanya teringat masa lalu saja, semua seperti mimpi. Sekarang "Rumah Pelangi" kita sudah berdiri kokoh, tidak hanya membantu anak-anak jalanan saja tapi juga anak-anak yang memiliki kertebatasan fisik yang di asingkan oleh kedua orangtuanya". Kata ku lalu berdiri dan memperhatikan setiap sudut rumah pelangi. Lalu aku melanjutkan ucapan ku "Dar, sekarang kamu telah menjadi dewasa dan terkenal. Jangan sampai kamu menjadi sombong".
"Yang berlalu biar berlalu, sekarang kita ada di sini semua karena Kak Rain. Aku tidak akan lupa itu dan tidak akan sombong. Hari ini adalah hari pernikahan Kak Rain. Mempelai pria sudah menunggu Kak Rain di dalam rumah pelangi, jangan bersedih dan bahagialah Kak karena harapan itu selalu ada...". Lalu si Dar memeluk ku.

Kami pun berjalan memasuki rumah pelangi yang sudah di penuhi oleh tamu undangan. Mempelai pria, kakak-kakak ku dan adik ku, anak-anak rumah pelangi semua orang yang ku cinta ada dalam satu tempat. Sebuah tempat yang dulu hanyalah sebuah mimpi kini menjadi nyata, hanya bapak yang tidak ada namun jiwanya selalu ada dalam hidup ku.

Hari ini aku menepati janji untuk mewujudkan mimpi di ujung senja itu, meski semua tidak mudah.

Semua akan indah jika di perjuangkan.

Karena dengan harapan, kehidupan kan terus berjalan - tERe.


Comments