Malam itu tepat pukul 23.00 wib, 28 Oktober 2015...
Seiring berakhirnya lagu "Bersinarlah" yang dibawakan live oleh musisi-musisi perempuan pada acara "Time To Shine", mini konser yang digelar oleh Sisterhoodgigs dalam 1 tahun berkarya, maka berakhir pula acara tersebut.
Semua orang yang masih ada di Street Gallery, mereka berbondong-bondong menghampiri panggung usai lagu "Bersinarlah" dibawakan. Mereka menghampiri sosok perempuan yang selama ini menjadi idola gue, Kak Tere. Ucapan selamat dan pujian atas keberhasilan Kak Tere dalam mendirikan Sisterhoodgigs terus berdatangan, hingga cipika cipiki pun mendarat di pipi Kak Tere. Semua orang, yah...semua orang malam itu benar-benar memuji keberhasilan Kak Tere.
Dan gue, cuma bisa berdiri menatap kagum sosok yang selama 14 tahun ini menjadi idola gue, sosok yang selama ini menginspirasi gue untuk bisa berkarya, sosok yang selama ini juga menjadi motivasi gue untuk terus semangat. Sampai akhirnya satu persatu dari mereka pergi, gue lalu menghampiri Kak Tere dengan hati bahagia melihat keberhasilan Sisterhoodgigs, saking bahagianya gue langsung peluk Kak Tere, sumpah malam itu rasanya terharu juga bahagia, yah...bahagia sekali. Mungkin malam itu, cuma gue yang melupakan ucapan kata "Selamat" kepada Kak Tere. Dibibir memang ucapan itu tidak terlontar, tapi dihati ucapan doa itu selalu ada.
Hari Kamis, 29 Oktober 2015.
Hari dimana gue masih merasakan bahagia atas perayaan 1 tahun Sisterhoodgigs berkarya. Gue masih belum menulis apapun tentang perayaan 1 tahun berkarya Sisterhoodgigs. Hanya foto saja yang gue share di path. Mungkin karena lelah semalam dibawa "nyasar" oleh supir taksi, yang pura-pura tahu jalan padahal sama sekali tidak tahun jalan arah Tangerang. 1 jam dijalan lalu balik lagi ke Bintaro, ini supir memang ajaib, untungnya masih ada kesabaran gue yang tersisa jadi beruntunglah itu supir tidak kena maki gue.
Seperti biasa, gue tidak pernah bisa lepas dari handphone pintar yang gue miliki. Meskipun gue tidak menulis apa-apa, tapi tetap buka akun socmed gue. Di twitter, masih ramai ucapan selamat 1 tahun Sisterhoodgigs berkarya, juga ucapan selamat untuk Kak Tere. Dipencarian twitter, gue coba masukan nama "tERetorial", banyak sekali kata-kata pujian untuk Kak Tere. Dari yang kagum sampai yang mengidolakan Kak Tere, semuanya ada. Betapa bangganya gue menjadi tERenity, karena semua orang memuji keberhasilan Kak Tere, meskipun ada yang nyinyir juga, sudah lupakanlah.
Yang pasti rasa kagum gue sama Kak Tere semakin bertambah. Melihat semangatnya membangun Sisterhoodgigs, dari masa-masa yang sulit hingga bisa berdiri diatas panggung "Time To Shine", semua tidak mudah. Ini yang membuat gue ingin selalu bisa membantu Kak Tere. Buat gue, Kak Tere bukan sekedar idola, tapi lebih dari itu. Semua sosok menjadi satu ada pada Kak Tere. Dari sosok seorang Guru, Kakak Idola, Pemimpin yang baik, kadang bisa menjadi teman sahabat orang yang paling mengerti, semuanya ada. Sempurna.
Hal-hal seperti ini, yang akhirnya membawa ingatan gue ke 14 tahun yang lalu. Dimana saat pertama kali gue benar-benar mengagumi Kak Tere dengan karya-karyanya, dimana saat gue sibuk mencari tahu tentang Kak Tere, dari kaset, majalah yang ada liputan Kak Tere, sampai merchandise Kak Tere yang dijual didepan gerbang sekolah. Entah itu merchandise original atau bukan, gue sama sekali tidak mengerti. Karena yang paling penting saat itu gue bisa mengoleksi merchandise Kak Tere, waktu itu yang gue beli adalah gantungan kunci yang ada foto Kak Tere. Sampai akhirnya gue bisa mendapatkan sebuah majalah remaja yang lagi eksis saat itu, halaman tengah tersebut khusus untuk liputan Kak Tere, dengan bonus poster Kak Tere ukuran besar. Pikir gue, tidak jajan di sekolah satu hari bukan masalah nanti bisa nebeng jajan ke teman, yang penting gue bisa beli majalah tersebut terus gue pasang didinding kamar.
Masih ingat perjuangan gue, ketika untuk bisa membeli kaset album pertama Kak Tere "Awal Yang Indah". Uang jajan sekolah selama kurang lebih 2 minggu yang gue simpan. Waktu itu gue dikasih uang jajan sekolah satu hari sebesar Rp 5000, ongkos dari rumah sampai sekolah pulang pergi waktu itu cuma Rp 1500, lalu yang Rp 1500 persiapan untuk keperluan sekolah, biasanya selalu ada untuk bayar foto copy soal ulangan atau yang lainnya, dan sisanya Rp 2000 gue simpan untuk beli album pertama Kak Tere. Kadang uang yang sudah tersimpan, suka terpakai oleh mama. Malah kadang uang jajan sebesar Rp 5000 suka dibagi dua dengan adik gue yang kebetulan juga satu sekolah dengan gue (dari dulu gue selalu mengalah). Hiks...
Tahun 2003, Kak Tere mengeluarkan album kedua "Sebuah Harapan", tahun dimana akhirnya gue resmi tinggal sama Kakek dan Nenek, bersama sepupu-sepupu gue yang lainnya. Tahun dimana saat kebebasan untuk bisa memiliki barang yang gue suka mulai terhalang. Kakak-Kakak sepupu gue, mereka menggunakan otoritasnya sebagai orang yang lebih tua dari gue dan merasa punya hak untuk melarang gue melakukan hal yang gue suka. Cih...sumpah gue benci banget dengan masa itu. Seandainya, gue tinggal sama orangtua waktu itu, mungkin gue masih dengan mudah bisa melakukan hal yang gue suka, meski awalnya selalu dimarahi. Gue masih ingat sekali, waktu gue beli kaset "Sebuah Harapan" (karena kemampuan gue cuma bisa beli kaset), jadi pulang sekolah gue mampir ke toko musik di Plaza Tangerang untuk beli kaset tersebut, sampai rumah agak telat. Sampai di rumah, seperti biasa salah satu Kakak sepupu gue, dia memarahi gue. Katanya gue boros beli yang tidak ada gunanya, uang sekolah untuk dihambur-hamburkan. Hei, gue beli ini dari hasil tabungan uang jajan sekolah yang tidak pernah gue pakai jajan. Gue dapat barang yang gue mau, dari hasil tabungan gue, bukan minta cuma-cuma ke orangtua atau ke kakek dan nenek, yang merengek minta dibelikan ini itu seperti yang kakak-kakak sepupu gue lakukan.
Sampai akhirnya gue bisa memiliki penghasilan sendiri, dan akhirnya dengan mudah gue bisa mendapatkan barang yang gue suka. Meskipun waktu itu harus menelan pahitnya, karena kaset album pertama Kak Tere "Awal Yang Indah" dipinjam oleh seorang teman tapi tidak dikembalikan lagi. Hingga detik ini gue masih berharap album pertama Kak Tere diproduksi lagi oleh Aquarius Musikindo.
Kalau dulu gue cuma bisa melihat Kak Tere dilayar kaca televisi atau di youtube, tapi sekarang semua berbeda. Masih antara percaya atau tidak percaya, sekarang gue sudah bisa bertemu Kak Tere dari yang sekedar minta foto bareng, minta tanda tangan sampai bisa berbagi banyak hal. Dan sekarang gue bisa sedekat ini dengan Kak Tere, ini adalah mimpi gue pada 14 tahun yang lalu.
Sisterhoodgigs adalah jalan yang diberikan Tuhan untuk gue bisa bertemu Kak Tere. Melakukan banyak hal bersama Kak Tere, dari yang sharing, ngobrol-ngobrol seru, pertama kali melihat Kak Tere marah, bisa lihat Kak Tere tertawa lepas yang tidak pernah gue lihat di televisi, sampai akhirnya bisa tertawa bareng hahaha....dan, belajar banyak hal dari Kak Tere tentang musik dan pengetahuan-pengetahuan umum lainnya, yang tidak pernah gue dapat di sekolah.
Dari Kak Tere, akhirnya semangat gue untuk kembali belajar dan melanjutkan pendidikan yang tertunda (kuliah gue berantakan) berkobar lagi. Entah kapan gue bisa memulainya lagi, yang pasti niat dan semangat itu kembali lagi untuk bersinar. Semoga waktu berpihak membawa rejeki itu datang ke gue. Dan sekarang gue berusaha untuk membenahi keadaan keluarga yang lagi berantakan, dan semoga keberadaan gue bisa memberikan manfaat hingga kesempatan itu datang.
Meskipun banyak orang yang mengukur kesuksesan itu dari materi, buat gue bisa bertemu Kak Tere dan sedekat ini dengannya, bisa belajar banyak hal dari Kak Tere itu adalah kesuksesan gue. Karena itulah yang selama 14 tahun ini ada dalam mimpi gue. Kesempatan yang Kak Tere berikan untuk gue, pengalaman baru gue dengan Sisterhoodgigs itu tidak ada duanya. Meskipun orang-orang itu berkata, bahwa ini bisa dikerjakan untuk kerja sampingan. Tapi bagi gue ini adalah pekerjaan utama bukan sampingan, Sisterhoodgigs adalah negara minimalis gue, bagaimana mungkin sebuah negara menjadi tempat sampingan?
Mereka tidak mengerti dan tidak akan mengerti, karena prioritas utama mereka adalah uang. Sedangkan buat gue, uang bukanlah prioritas utama meski saat ini gue butuh uang. Tapi ada yang lebih berharga selain uang.
Kak Tere, yup...idola gue sejak 14 tahun yang lalu. Orang yang mengajarkan gue banyak hal, dari seperti apa rasanya berjuang sendiri dan berjuang bersama. Orang yang mengajarkan tentang bagaimana menghargai orang lain juga karyanya. Orang yang selalu ramah pada siapapun, orang yang selalu membuka tangannya untuk menerima orang lain dengan baik. Terlihat biasa saja, namun bersahaja. Dia...Kak Tere.
Mengagumi dengan hati itu rasanya berbeda dengan mengagumi karena ikut-ikutan orang lain. Atau mengagumi karena si band atau penyanyi si A sedang naik daun. Karena kita akan mengerti seperti apa menyayangi sesuatu selama bertahun-tahun, dan akan tahu seperti apa sakitnya jika ada yang hal yang mengusik ketenangan dari sesuatu yang kita sayangi. Jadilah orang yang cerdas untuk memilih orang yang pantas dikagumi.
Gue tidak pernah menyesal waktu 14 tahun yang lalu. Disana awal gue mengenal Kak Tere dari karya-karyanya, meskipun tahun 2012 banyak orang yang mencibir Kak Tere, itu tidak pernah mengurangi rasa kagum gue sama Kak Tere. Karena gue tahu, Kak Tere adalah orang yang luar biasa, yang mencibir Kak Tere waktu itu adalah orang-orang yang tidak mengenal Kak Tere tapi sok kenal. Tahun 2015 adalah tahun gue bertemu Kak Tere dan juga tahun Kak Tere kembali "Bersinar" dengan Sisterhoodgigs.
Belajarlah untuk mencintai karya idola kamu dengan hati, kamu akan tahu betapa bahagianya saat kamu bisa jalan bersama dengan idola kamu dalam satu tujuan yang sama. Berkarya di negri ini, meski semangatnya terus dipadamkan.
Akhirnya...terwujud sudah tulisan ini, sejak satu minggu yang lalu ingin menulis tentang ini, dan baru hari ini bisa ditulis (tulis ini tidak sembarangan, karena spesial pakai hati dan cinta).
Selamat ya Kak untuk Sisterhoodgigs-nya, "Bersinarlah" lagi untuk semua perempuan di negri ini.
Sehat terus ya Kak...dan diberi umur panjang dan ide yang luas, juga kesabaran yang banyak agar terus bisa berkarya di negri yang pilu ini.
Tulisan ini spesial untuk "My tERetorial".
Seiring berakhirnya lagu "Bersinarlah" yang dibawakan live oleh musisi-musisi perempuan pada acara "Time To Shine", mini konser yang digelar oleh Sisterhoodgigs dalam 1 tahun berkarya, maka berakhir pula acara tersebut.
Semua orang yang masih ada di Street Gallery, mereka berbondong-bondong menghampiri panggung usai lagu "Bersinarlah" dibawakan. Mereka menghampiri sosok perempuan yang selama ini menjadi idola gue, Kak Tere. Ucapan selamat dan pujian atas keberhasilan Kak Tere dalam mendirikan Sisterhoodgigs terus berdatangan, hingga cipika cipiki pun mendarat di pipi Kak Tere. Semua orang, yah...semua orang malam itu benar-benar memuji keberhasilan Kak Tere.
Dan gue, cuma bisa berdiri menatap kagum sosok yang selama 14 tahun ini menjadi idola gue, sosok yang selama ini menginspirasi gue untuk bisa berkarya, sosok yang selama ini juga menjadi motivasi gue untuk terus semangat. Sampai akhirnya satu persatu dari mereka pergi, gue lalu menghampiri Kak Tere dengan hati bahagia melihat keberhasilan Sisterhoodgigs, saking bahagianya gue langsung peluk Kak Tere, sumpah malam itu rasanya terharu juga bahagia, yah...bahagia sekali. Mungkin malam itu, cuma gue yang melupakan ucapan kata "Selamat" kepada Kak Tere. Dibibir memang ucapan itu tidak terlontar, tapi dihati ucapan doa itu selalu ada.
Hari Kamis, 29 Oktober 2015.
Hari dimana gue masih merasakan bahagia atas perayaan 1 tahun Sisterhoodgigs berkarya. Gue masih belum menulis apapun tentang perayaan 1 tahun berkarya Sisterhoodgigs. Hanya foto saja yang gue share di path. Mungkin karena lelah semalam dibawa "nyasar" oleh supir taksi, yang pura-pura tahu jalan padahal sama sekali tidak tahun jalan arah Tangerang. 1 jam dijalan lalu balik lagi ke Bintaro, ini supir memang ajaib, untungnya masih ada kesabaran gue yang tersisa jadi beruntunglah itu supir tidak kena maki gue.
Seperti biasa, gue tidak pernah bisa lepas dari handphone pintar yang gue miliki. Meskipun gue tidak menulis apa-apa, tapi tetap buka akun socmed gue. Di twitter, masih ramai ucapan selamat 1 tahun Sisterhoodgigs berkarya, juga ucapan selamat untuk Kak Tere. Dipencarian twitter, gue coba masukan nama "tERetorial", banyak sekali kata-kata pujian untuk Kak Tere. Dari yang kagum sampai yang mengidolakan Kak Tere, semuanya ada. Betapa bangganya gue menjadi tERenity, karena semua orang memuji keberhasilan Kak Tere, meskipun ada yang nyinyir juga, sudah lupakanlah.
Yang pasti rasa kagum gue sama Kak Tere semakin bertambah. Melihat semangatnya membangun Sisterhoodgigs, dari masa-masa yang sulit hingga bisa berdiri diatas panggung "Time To Shine", semua tidak mudah. Ini yang membuat gue ingin selalu bisa membantu Kak Tere. Buat gue, Kak Tere bukan sekedar idola, tapi lebih dari itu. Semua sosok menjadi satu ada pada Kak Tere. Dari sosok seorang Guru, Kakak Idola, Pemimpin yang baik, kadang bisa menjadi teman sahabat orang yang paling mengerti, semuanya ada. Sempurna.
Hal-hal seperti ini, yang akhirnya membawa ingatan gue ke 14 tahun yang lalu. Dimana saat pertama kali gue benar-benar mengagumi Kak Tere dengan karya-karyanya, dimana saat gue sibuk mencari tahu tentang Kak Tere, dari kaset, majalah yang ada liputan Kak Tere, sampai merchandise Kak Tere yang dijual didepan gerbang sekolah. Entah itu merchandise original atau bukan, gue sama sekali tidak mengerti. Karena yang paling penting saat itu gue bisa mengoleksi merchandise Kak Tere, waktu itu yang gue beli adalah gantungan kunci yang ada foto Kak Tere. Sampai akhirnya gue bisa mendapatkan sebuah majalah remaja yang lagi eksis saat itu, halaman tengah tersebut khusus untuk liputan Kak Tere, dengan bonus poster Kak Tere ukuran besar. Pikir gue, tidak jajan di sekolah satu hari bukan masalah nanti bisa nebeng jajan ke teman, yang penting gue bisa beli majalah tersebut terus gue pasang didinding kamar.
Masih ingat perjuangan gue, ketika untuk bisa membeli kaset album pertama Kak Tere "Awal Yang Indah". Uang jajan sekolah selama kurang lebih 2 minggu yang gue simpan. Waktu itu gue dikasih uang jajan sekolah satu hari sebesar Rp 5000, ongkos dari rumah sampai sekolah pulang pergi waktu itu cuma Rp 1500, lalu yang Rp 1500 persiapan untuk keperluan sekolah, biasanya selalu ada untuk bayar foto copy soal ulangan atau yang lainnya, dan sisanya Rp 2000 gue simpan untuk beli album pertama Kak Tere. Kadang uang yang sudah tersimpan, suka terpakai oleh mama. Malah kadang uang jajan sebesar Rp 5000 suka dibagi dua dengan adik gue yang kebetulan juga satu sekolah dengan gue (dari dulu gue selalu mengalah). Hiks...
Tahun 2003, Kak Tere mengeluarkan album kedua "Sebuah Harapan", tahun dimana akhirnya gue resmi tinggal sama Kakek dan Nenek, bersama sepupu-sepupu gue yang lainnya. Tahun dimana saat kebebasan untuk bisa memiliki barang yang gue suka mulai terhalang. Kakak-Kakak sepupu gue, mereka menggunakan otoritasnya sebagai orang yang lebih tua dari gue dan merasa punya hak untuk melarang gue melakukan hal yang gue suka. Cih...sumpah gue benci banget dengan masa itu. Seandainya, gue tinggal sama orangtua waktu itu, mungkin gue masih dengan mudah bisa melakukan hal yang gue suka, meski awalnya selalu dimarahi. Gue masih ingat sekali, waktu gue beli kaset "Sebuah Harapan" (karena kemampuan gue cuma bisa beli kaset), jadi pulang sekolah gue mampir ke toko musik di Plaza Tangerang untuk beli kaset tersebut, sampai rumah agak telat. Sampai di rumah, seperti biasa salah satu Kakak sepupu gue, dia memarahi gue. Katanya gue boros beli yang tidak ada gunanya, uang sekolah untuk dihambur-hamburkan. Hei, gue beli ini dari hasil tabungan uang jajan sekolah yang tidak pernah gue pakai jajan. Gue dapat barang yang gue mau, dari hasil tabungan gue, bukan minta cuma-cuma ke orangtua atau ke kakek dan nenek, yang merengek minta dibelikan ini itu seperti yang kakak-kakak sepupu gue lakukan.
Sampai akhirnya gue bisa memiliki penghasilan sendiri, dan akhirnya dengan mudah gue bisa mendapatkan barang yang gue suka. Meskipun waktu itu harus menelan pahitnya, karena kaset album pertama Kak Tere "Awal Yang Indah" dipinjam oleh seorang teman tapi tidak dikembalikan lagi. Hingga detik ini gue masih berharap album pertama Kak Tere diproduksi lagi oleh Aquarius Musikindo.
Kalau dulu gue cuma bisa melihat Kak Tere dilayar kaca televisi atau di youtube, tapi sekarang semua berbeda. Masih antara percaya atau tidak percaya, sekarang gue sudah bisa bertemu Kak Tere dari yang sekedar minta foto bareng, minta tanda tangan sampai bisa berbagi banyak hal. Dan sekarang gue bisa sedekat ini dengan Kak Tere, ini adalah mimpi gue pada 14 tahun yang lalu.
Sisterhoodgigs adalah jalan yang diberikan Tuhan untuk gue bisa bertemu Kak Tere. Melakukan banyak hal bersama Kak Tere, dari yang sharing, ngobrol-ngobrol seru, pertama kali melihat Kak Tere marah, bisa lihat Kak Tere tertawa lepas yang tidak pernah gue lihat di televisi, sampai akhirnya bisa tertawa bareng hahaha....dan, belajar banyak hal dari Kak Tere tentang musik dan pengetahuan-pengetahuan umum lainnya, yang tidak pernah gue dapat di sekolah.
Dari Kak Tere, akhirnya semangat gue untuk kembali belajar dan melanjutkan pendidikan yang tertunda (kuliah gue berantakan) berkobar lagi. Entah kapan gue bisa memulainya lagi, yang pasti niat dan semangat itu kembali lagi untuk bersinar. Semoga waktu berpihak membawa rejeki itu datang ke gue. Dan sekarang gue berusaha untuk membenahi keadaan keluarga yang lagi berantakan, dan semoga keberadaan gue bisa memberikan manfaat hingga kesempatan itu datang.
Meskipun banyak orang yang mengukur kesuksesan itu dari materi, buat gue bisa bertemu Kak Tere dan sedekat ini dengannya, bisa belajar banyak hal dari Kak Tere itu adalah kesuksesan gue. Karena itulah yang selama 14 tahun ini ada dalam mimpi gue. Kesempatan yang Kak Tere berikan untuk gue, pengalaman baru gue dengan Sisterhoodgigs itu tidak ada duanya. Meskipun orang-orang itu berkata, bahwa ini bisa dikerjakan untuk kerja sampingan. Tapi bagi gue ini adalah pekerjaan utama bukan sampingan, Sisterhoodgigs adalah negara minimalis gue, bagaimana mungkin sebuah negara menjadi tempat sampingan?
Mereka tidak mengerti dan tidak akan mengerti, karena prioritas utama mereka adalah uang. Sedangkan buat gue, uang bukanlah prioritas utama meski saat ini gue butuh uang. Tapi ada yang lebih berharga selain uang.
Kak Tere, yup...idola gue sejak 14 tahun yang lalu. Orang yang mengajarkan gue banyak hal, dari seperti apa rasanya berjuang sendiri dan berjuang bersama. Orang yang mengajarkan tentang bagaimana menghargai orang lain juga karyanya. Orang yang selalu ramah pada siapapun, orang yang selalu membuka tangannya untuk menerima orang lain dengan baik. Terlihat biasa saja, namun bersahaja. Dia...Kak Tere.
Mengagumi dengan hati itu rasanya berbeda dengan mengagumi karena ikut-ikutan orang lain. Atau mengagumi karena si band atau penyanyi si A sedang naik daun. Karena kita akan mengerti seperti apa menyayangi sesuatu selama bertahun-tahun, dan akan tahu seperti apa sakitnya jika ada yang hal yang mengusik ketenangan dari sesuatu yang kita sayangi. Jadilah orang yang cerdas untuk memilih orang yang pantas dikagumi.
Gue tidak pernah menyesal waktu 14 tahun yang lalu. Disana awal gue mengenal Kak Tere dari karya-karyanya, meskipun tahun 2012 banyak orang yang mencibir Kak Tere, itu tidak pernah mengurangi rasa kagum gue sama Kak Tere. Karena gue tahu, Kak Tere adalah orang yang luar biasa, yang mencibir Kak Tere waktu itu adalah orang-orang yang tidak mengenal Kak Tere tapi sok kenal. Tahun 2015 adalah tahun gue bertemu Kak Tere dan juga tahun Kak Tere kembali "Bersinar" dengan Sisterhoodgigs.
Belajarlah untuk mencintai karya idola kamu dengan hati, kamu akan tahu betapa bahagianya saat kamu bisa jalan bersama dengan idola kamu dalam satu tujuan yang sama. Berkarya di negri ini, meski semangatnya terus dipadamkan.
Akhirnya...terwujud sudah tulisan ini, sejak satu minggu yang lalu ingin menulis tentang ini, dan baru hari ini bisa ditulis (tulis ini tidak sembarangan, karena spesial pakai hati dan cinta).
Selamat ya Kak untuk Sisterhoodgigs-nya, "Bersinarlah" lagi untuk semua perempuan di negri ini.
Sehat terus ya Kak...dan diberi umur panjang dan ide yang luas, juga kesabaran yang banyak agar terus bisa berkarya di negri yang pilu ini.
Tulisan ini spesial untuk "My tERetorial".
Comments
Post a Comment