Mimpi Itu Bukan Jemuran Pakaian

Yeay....dan akhirnya gue bisa ngeblog lagi...!!!
Yup, cukup lama gak nulis di blog sendiri, alasannya pun klasik karena sibuk, sibuk, dan sibuk hehehe

Hmmm....oke, kita mulai.
Dulu, iya dulu banget...saat gw masih "cupu" (sampai detik ini pun gue merasa masih cupu), sekitar 6 tahun yang lalu, di mana masa-masa itu gue mulai melakukan pemberontakan pada keadaan yang mengikat gue. Gue merasa muak dengan semua peraturan yang ada, gak boleh ini dan itu. Buat gue, peraturan itu secara perlahan membunuh karakter gue. Peraturan dibuat oleh manusia dan yang melanggar pun manusia. Jadi, peraturan itu ada untuk dilanggar.

Dengan segenap keberanian dan sisa-sisa mimpi gue yang masih tertanam, gue keluar dari zona aman. Karena zona aman itu tidak membuat gue merasakan kenyamanan dalam hidup gue. Dan gue mulai mencari jati diri gue, mulai berlari mengejar segala ketertinggalan dalam hidup gue di masa itu. Mimpi, iya dia mulai bersuara dan berteriak lantang membangunkan semangat hidup gue yang lebih membara lagi.

Di titik terendah dalam hidup gue saat itu, gue menemukan apa yang gue cari. Persetan apa kata orang, gak peduli apa yang mereka katakan. Yang menurut mereka baik, belum tentu baik untuk gue. Jadi diri sendiri itu jauh lebih baik ketimbang harus berpura-pura terlihat seperti orang baik. Gue kembali memulainya dari awal, mengikuti nurani dan kata hati.

Kata mereka, gue pemimpi gila yang hidup di dalam mimpi. But, I don't care. Gue merasa nyaman dan bahagia dengan hidup gue, merasa terlepas dari segala beban terkutuk itu. Kakak Idola gue pernah bilang "mimpi kalau diniatkan itu pasti terwujud". Dan gue percaya itu.

Masa-masa suram itu (gak perlu kali ya gue tulis semua di sini jeleknya gue, nanti yang ada gue tambah jelek...hahaha), yang pasti gue bangga bisa menjadi diri gue sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain, gue bahagia bisa melakukan dan mengerjakan apa yang gue suka, karena kepuasan itu gak bisa diukur dari seberapa besar materi yang didapatkan.

Kalau loe punya mimpi, jangan cuma digantung setinggi langit. Percuma digantung aja, kalau loe gak berani untuk berlari mengejar dan mewujudkannya. Mimpi dan cita-cita itu buka cuma sekedar goresan yang loe tulis di dalam buku dairy teman loe. Mimpi dan cita-cita itu adalah harapan dan tujuan hidup yang semestinya bisa dipertahankan hingga akhirnya dapat terwujud.

Kata orang pekerjaan sebagai penulis itu masa depannya gak jelas. Tapi, gue menikmati setiap proses yang gue lewati dalam menata hidup gue sebagai penulis amatir. Gue bukan sarjana komunikasi, gue cuma anak yang di DO sama pihak kampus. Tapi rasa cinta gue pada seni, khususnya seni musik dan seni merajut kata (tulis menulis) membuat hidup gue jadi jauh lebih baik. Bukan karena besar pendapatan yang gue dapatkan, tapi kepuasan hati karena itu mimpi gue dari gue masih orok😅

Di musik, gue gagal jadi musisi. Tapi, gue bisa menulis semua tentang musik dan musisi idola gue di dalam blog gue, dan gue berhasil sebagai penulis amatir (ini menurut gue) persetan apa kata orang. Loe tau rasanya saat loe bisa menulis semua yang loe suka dan yang gak suka? Itu seperti kentut yang tertahan akhirnya bisa kentut (lega...).

Jadi, bermimpilah...mimpi itu gratis, untuk mencapainya loe hanya butuh perjuangan. Jangan berhenti berjuang karena loe gak ada uang. Gue pernah kehabisan ongkos pulang dari Jakarta ke Tangerang demi bolak balik antar naskah ke salah satu redaksi majalah, meskipun akhirnya sering ditolak. Tapi gue tetap happy. Sampai akhirnya gue bisa bertemu Kakak Idola gue, saat itulah gue dapat pelajaran hidup yang sangat berharga yang menjadikan gue seperti saat ini.

Dari Kakak Idola, gue banyak belajar tentang musik dan dunia event juga seni tulis menulis, tentang harapan yang gak pernah padam. "Karena dengan harapan kehidupan kan terus berjalan". Itulah kata-kata Kakak Idola gue yang buat gue bisa survive.

Selain musik dan tulis menulis, gue suka ngebolang, atau istilah kerennya itu traveling. Otak gue mulai berpikir, bagaimana caranya gue bisa traveling gratis. Di sela-sela gue berpikir itu sambil membaca sebuah artikel di salah satu blog yang menerangkan beberapa jenis pekerjaan yang bisa membawa kita traveling gratis, dan salah satunya adalah pekerjaan di bidang jurnalis.

Dream come true....!!!!
Menjadi seorang jurnalis adalah salah satu dari sekian cita-cita gue yang pernah gue tulis di buku dairy teman gue waktu SD, yang akhirnya bisa terwujud. Menjadi seorang jurnalis itu bisa bertemu dengan berbagai macam karakter manusia, menggali berbagai macam informasi positif terutama musik dan wisata, karena itu bagian dari nyawa hidup gue.

Selang berilmu dari Kakak Idola gue, gue dapat tawaran untuk menjadi jurnalis lepas di salah satu majalah ibu dan anak, gue juga menjadi penulis lepas di salah satu website kesehatan dan pariwisata, sampai akhirnya gue terjun bebas ke majalah yang mengulas tentang kebandarudaraan. Dari majalah tentang kebandarudaraan tersebutlah akhirnya gue punya kesempatan traveling gratis.

Intinya, percaya pada kemampuan diri loe. Apa yang loe impikan dan cita-citakan jika diniatkan pasti terwujud. Dalam hidup ini gak ada yang gak mungkin selama loe gak menyerah dan terus berusaha serta berdoa, yakinlah Sang Pemilik Kehidupan ini selalu ada bersama loe dalam keadaan apapun.

Mimpi loe itu bukan seperti jemuran pakaian yang terus digantung sampai kering. Mimpi loe adalah kehidupan loe, karena hidup berawal dari mimpi. Niatkan mimpi loe itu untuk terwujud. Kritik dari orang lain itu anggap aja seperti keripik pedas yang enak dimakan.

Dan akhirnya....selesai juga apa yang mau gue tulis. Kalau loe suka menulis, eksplore terus kemampuan menulis loe setiap hari, minimal sehari menulis 400 kata, lama kelamaan akan terbiasa. Tulis apa yang ingin loe tulis, jangan takut salah. Karena salah itu biasa, dengan demikian loe tau di mana kekurangan dan kekuatan diri loe.

Terimakasih bijaksana buat kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ngelantur gue ini.

"Hidup ini hanya kepingan, yang terasing di lautan...
Memaksa kita, memendam kepedihan..."




Comments