Lepas dan Bebas

Saya tidak pernah menyangka, bahwa saya akan melangkah sejauh ini. Mengarungi samudera yang luas, menikmati keindahan Nusantara yang tidak ada duanya. Dulu, saya hanya mampu bermimpi tentang ini. Tentang cita-cita ini yang selalu tertanam di dalam lubuk hati. Saya hanya dapat menulisnya. Menulis semua mimpi itu dalam goresan tinta hitam di atas kertas putih yang tersimpan dalam lemari buku yang sudah semakin rapuh. Saya melangkah mengikuti kata hati, terus melangkah tanpa henti hingga menemukan titik ini.

Teringat, beberapa tahun silam saat saya menjadi buruh pabrik di salah satu perusahaan tekstil terkemuka di pinggiran ibukota. Itu adalah awal saya melangkah menuju impian saya. Melawan peraturan-peraturan yang ada, yang dapat menyita semua mimpi saya. Terus mencari jati diri, lalu saya merasa nyaman dengan keadaan saat itu, hingga akhirnya hati saya berkata "inilah saatnya untuk keluar dari zona aman". Saya bergegas mengambil seribu langkah untuk mengejar waktu yang tertingal menuju impian itu.

Menjadi buruh pabrik, bagian dari kehidupan saya yang tidak akan terlupakan. Di mana pada saat itu, saya hanyalah orang biasa saja yang tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak ada keberanian melawan saat tertindas, hanya diam seribu kata menahan emosi saat terinjak oleh mereka yang merasa lebih senior, lebih lama dalam bekerja. Cih, saya benci itu. Perbedaan antara cantik dan jelek, pintar dan bodoh, mencari perhatian untuk mendapatkan simpatik dari pimpinan. Menjadi orang lain agar terlihat baik di hadapan semua orang. Sungguh hidup dalam kemunafikan.

Saya tinggalkan semua itu. Meski banyak orang yang meragukan keputusan saya saat itu. Saya tidak menyesalinya. Tapi saya mensyukurinya, karena itulah yang membuat saya bebas menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain agar terlihat baik di mata manusia. Walaupun sebagian dari mereka berkata, bahwa saya ini adalah pemimpi gila yang terlalu banyak berkhayal tentang impian itu. Menjadi jurnalistik adalah cita-cita saya sedari kecil, hingga saya tumbuh dewasa, keyakinan itu semakin kuat. Saya ingin menjadi pekerja seni. Lalu saya semakin jatuh cinta dengan dunia menulis, seni merajut kata yang akhirnya membawa saya bertemu dengan cita-cita masa kecil saya. Meski banyak orang yang mencibir mimpi saya, karena menurut mereka, saya hanyalah orang biasa yang tidak memiliki kemampuan. Hina, caci maki, dan cibiran adalah makanan sehari-hari yang terbiasa saya telan.

Saya percaya, bahwa di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika kita mau berusaha memperjuangkannya, berlari mengejarnya. Jatuh bangun dalam meraih mimpi dan menggapai cita-cita adalah hal yang biasa terjadi. Semakin keras cobaan yang menerpa dan menggoyahkan langkah, maka semakin kuat juga keinginan dan jiwa ini. Meskipun sesekali gelisah tak menentu itu ada. Saya percaya bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia.

Selepas itu semua, saya merasa lega karena bebas. Bebas menjadi diri sendiri, bebas melangkah meraih mimpi, bebas dari semua omongan yang menyakitkan hati, bebas dari orang-orang yang merasa benar dan senior. Saya menemukan dunia yang selama ini hilang. Lalu, saya terbang kepangkan sayap-sayap mimpi itu setinggi-tingginya. Bebas, sebebas-bebasnya menuangkan semuanya dalam sebuah tulisan yang terangkai indah menjadi barisan nan cantik tuk dibaca oleh banyak orang. Setidaknya, saya bisa menjadi orang yang bermanfaat. Tidak lagi menjadi pecundang yang terkukung dalam rantai peraturan-peraturan yang perlahan akan membuat jiwa dan pikiran ini mati. Kini, saya menjadi orang yang percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Tidak lagi apa kata mereka yang saya dengar, suara-suara sumbang yang hanya mengganggu ketenangan saya dalam bermimpi. Langkah saya kini kian pasti, melaju cepat bersama waktu. Tidak ada lagi keraguan dalam diri, terus melangkah taklukan dunia. 

Comments