EGO

Menepikan ego, bukanlah hal yang mudah dilakukan. Setiap orang memiliki keinginan yang berbeda, terkadang kita harus memaksakan diri untuk memahami keadaan dan apa yang dia inginkan. Mencoba memakluminya. Perlahan rasa jenuh itu tumbuh mekar dan membunuh akal pikiran secara perlahan. Kemarahan, kekecewaan, kebencian mulai merasuk jiwa. Kaki yang lemah ini coba terus berjalan, mencari udara kebebesan, agar terlepas dari semua keterpaksaan untuk memahami keadaan.

Di tengah keramaian, saat senja sore itu datang. Orang-orang saling berlarian mengejar waktu agar tidak telat sampai di rumah, terkadang mereka saling mendorong dan sesekali saling menarik. Keegoisan itu pun semakin tampak jelas, ketika ada wanita tua mengiba meminta tolong untuk disebrangkan ke tepi jalan, namun tak dihiraukan.

Iya benar, setiap orang memiliki ego dan kepentingan hidup yang berbeda. Terkadang, sebagian dari mereka menganggap, bahwa hidup mereka jauh lebih penting dengan sejuta kesibukan sehingga melupakan yang lain, sekitarnya yang hidup saling berdampingan dengan dirinya. Lalu, menganggap bahwa dirinyalah yang benar dan memaksa yang lain untuk menerima itu.

Lapang dada dan bersabar. Hanya itu yang dapat dilakukan saat kata dan caci tak berarti untuk menghadapi semua yang terjadi pada hidup ini. Meskipun terkadang apa yang kita inginkan, mereka tak selalu mengerti, dan kita kembali lagi dipaksa untuk memaklumi keadaan. Cih...dan semua terasa semakin sakit saat kita harus dapat menguasai kemarahan dan tidak terbawa dengan emosi, agar tak ada penyesalan di kemudian hari. Dunia ini memang benar panggung sandirawa, semua hanya pura-pura semata.

Membantah dan memberontak pada keadaan, bukan berarti kita ini adalah orang yang tidak baik dan tidak mau mengikuti aturan. Tentu ada alasan kenapa semua itu kita lakukan. Yang terlihat benar, tidak selalu benar. Begitu juga dengan yang terlihat salah, tak selalu salah. Apa yang mereka anggap baik untuk kita, belum tentu itu baik untuk hidup kita. Demikian halnya dengan apa yang mereka anggap salah, belum tentu salah untuk kita. Menjalani segala sesuatu tanpa keterpaksaan untuk memakluminya dan menepikan ego untuk menerima apa adanya juga bukan hal yang mudah.

Tapi di sini, saya menulis ini hanya untuk intropeksi diri sendiri.
Ada saat di mana saya bisa menerima dan memaklumi semuanya, dan ada saat di mana saya juga ingin sesekali mereka mengerti. Meski itu tak mudah, bahkan terkadang apa yang saya lakukan terlihat seperti tidak logis. Ini saya apa adanya. Ingin menjadi lebih baik, tentu itu harapan setiap manusia di bumi ini, begitu pun dengan saya yang terus berusaha untuk menjadi lebih baik, setidaknya menjadi pribadi yang baik. Meredakan ego yang saya miliki, tentu bukan perkara mudah. Harus berdamai dengan hati dan pikiran, serta berjibaku dengan waktu. Melupakan sesuatu yang menyakitkan pun tak mudah, membutuhkan hati yang luas untuk memaafkan. Tapi, saya berusaha untuk itu.

Sesorang pernah berkata, saat diri kita dikuasai oleh kemarahan karena dia, maka ingatlah semua hal baik yang pernah dia lakukan untuk hidup kita. Apapun hal baik yang dia pernah lakukan, tidak dapat terukur dengan materi. Emosi sesaat terkadang juga membuat kita tersesat. Kembali, lalu katakan maaf, karena meminta maaf tidak akan membuat kita menjadi rendah. Dan, maaf adalah salah satu dari tiga kata ajaib yang membawa hidup menjadi lebih damai.

Saat merasa terasing, maka berjalanlah keluar, cari duniamu, mereka yang benar-benar dapat menerima kamu apa adanya dengan segala kekurangan dan kelemahan sebagai manusia biasa. Jika kamu merasa terpaksa untuk melakukan apa yang mereka minta, maka katakanlah bahwa kamu tidak bisa untuk menerima dan melakukannya. Katakan semua tidak perlu takut, jangan biarkan kebebasanmu tertindas. Karena dengan "berbicara" dari hati, semua masalah mampu dilewati dengan bahasa dan komunikasi yang baik. Jangan merasa sendiri, karena sesungguhnya kamu tidak pernah sendiri. Ada banyak orang yang sebenarnya mencintaimu, hanya saja kamu tidak menyadarinya.



Comments