Banyak sudah yang dilewati, suka, duka, canda, tawa, dan tangis menjadi satu rangkaian dalam kehidupan ini. Terkadang awan hitam turut menyelimuti perjalanan ini. Namun tak lama langit pun kembali cerah. Birunya memberikan semangat untuk terus melangkah.
Perjalanan ini dimulai dari sebuah mimpi. Mimpi yang selama ini bersamayam dalam pelupuk mata, namun terus menggelayuti pikiran. Melewati jalan sempit yang tak bertuan, lelah yang semakin menyiksa batin, namun akhirnya terbayar sudah dengan harapan yang menguatkan jiwa, bahwa mimpi itu akan menjadi nyata.
Hentakkan kaki yang melangkah semakin keras, terdengar semangat tak gentar dalam setiap langkah. Aku berjalan dengan sajuta mimpi dan cita-citaku, tak peduli orang berkata ini dan itu. Tatapanku hanya bertuju pada satu tujuan, yaitu mimpi itu menjadi nyata.
Banyak orang yang mengatakan, kalau mimpi jangan terlalu tinggi, karena sakit rasanya ketika mimpi itu tak pernah menjadi nyata. Tapi semua itu sirna seketika, saat aku bertemu dia, Theresia Ebenna Ezeria Pardede atau masyarakat luas lebih mengenalnya dengan nama tERe. Tapi aku memanggilnya Kakak Idola.
Siapa yang tidak mengenal sosok Kakak Idola di se-antero negeri ini? Dia perempuan hebat. Dia bukan hanya seniman yang mempertahankan idealisnya dalam berkarya, tapi dia adalah orang yang menyadarkan aku dengan segala potensi dan bakat yang ada dalam diri ini. Cara berpikirnya yang lugas, tutur katanya yang santun, dan keramahannya membuat siapapun yang mengenalnya akan kagum pada sosoknya. Kakak Idola yang mengajarkanku banyak hal. Setiap saat bersamanya, setiap saat itu pula dia selalu berbagi ilmu, mengajarkanku banyak hal. Tentang hidup, mimpi, cita-cita, dan banyak lagi yang tidak bisa ditulis di sini.
Kakak Idola adalah satu-satunya orang yang percaya dengan kemampuan yang kumiliki. Saat itu, hanya dia yang mau membaca setiap baris tulisan yang kubuat. Tidak bagus, bukan apa-apa, tapi dia mau meluangkan waktu untuk membacanya. Dia yang meyakini aku dengan kemampuan itu. Rasa percaya diri adalah kelemahanku. Sekali lagi, Kakak Idola berhasil mematahkan kelemahanku. Karenanya juga, aku bisa percaya diri dengan kemampuan dan bakat yang kumiliki.
Kakak Idola pernah berkata, bahwa mimpi jika diniatkan pasti terwujud. Kata-kata itu terus terngiang hingga saat ini, meskipun sebagian mimpi itu telah terwujud. Tapi aku tidak hanya berhenti sampai di titik pencapaian ini. Ada banyak hal yang harus diperbaiki, dibenahi, dan dicapai dalam hidup ini. Bukan hanya materi, tapi lebih dari itu.
Bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini adalah yang utama. Bersyukur karena dipertemukan dengan Kakak Idola. Dari Kakak Idola, aku bisa mendapatkan banyak hal. Bahkan mimpi itu terwujud. Tanpa Kakak Idola, aku bukan siapa-siapa. Dia bukan sekedar Kakak Idola, tapi dia adalah inspirasi dari setiap karya tulis yang kubuat. Juga menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kebersamaanku dengan Kakak Idola memang singkat, tapi kebaikan dan ilmu yang ditanamkannya dalam diri ini akan terus tumbuh dan berkembang menyinari dunia. Kakak Idola selalu berpesan, jadilah diri sendiri dan gunakanlah kemampuan itu untuk kebaikan juga hal yang positif. "Semoga kamu semakin bersinar dan dapat menerangi dunia juga sekitarmu dengan kemampuanmu". Kata-kata Kakak Idola tidak akan pernah terlupakan.
Kini, aku sibuk dengan duniaku. Begitu pun dengan Kakak Idola. Tapi aku berjanji akan menemuinya, menunjukkan bahwa yang dia ajarkan kini bermanfaat. Aku bisa menjadi lebih baik dan kuat karena yang diajarkannya, ilmu yang diberikannya, ilmu yang tidak pernah didapatkan di bangku sekolah.
Satu hal yang membuat aku bangga padanya, di sela-sela kesibukanku, ketika aku menghubunginya melalui email, dalam balasannya, dia tidak pernah lupa mengingatkanku tentang kewajiban sebagai umat muslim, sholat lima waktu jangan pernah ditinggal. Sungguh, dia memang benar-benar Kakak Idola.
Kini, keliling Nusantara, dari Sabang sampai Merauke bukanlah sesuatu yang baru dalam hidupku. Aku bersyukur mendapatkan kesempatan dan kepercayaan itu. Tanpa bakat yang diberikan oleh Sang Pencipta, tanpa Kakak Idola yang menyadarkanku, aku bukan siapa-siapa. Mungkin saat ini, aku masih anak culas yang meninggikan mimpinya tanpa mau berusaha karena takut akan cibiran orang lain. Anak culas yang masih bermalas-malasan di tempat tidur meratapi hidupnya.
Masih banyak yang ingin kucapai dalam seni merajut kata. Walaupun masih banyak orang yang merendahkanku dengan mimpi itu, merendahkan bakat yang diberikan Sang Pencipta. Tapi kutetap berjalan dengan keyakinan itu, bahwa dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Sekarang roda kehidupan ada di bawah, tapi esok kita tidak akan tahu, kita akan berada di atas dan memimpin dunia.
Dari semua hal yang telah berlalu, gue juga bersyukur (maaf, bahasa yang digunakan tidak konsisten), di dunia yang baru ini, gue dipertemukan dengan seseorang yang kalau sesuai dengan struktur organisasi di kantor, dia itu atasan gue. Tapi buat gue, dia juga bukan sekedar atasan. Apapun gue menyebutnya, gue berterimakasih karena dia juga membantu gue untuk menjadi lebih baik dan mendekatkan gue dengan Sang Pencipta. Sedikit banyak, dia tempat gue bertanya tentang kebutuhan rohani gue yang selama ini hanya seadanya. Bisa dikatakan, dia membantu gue memperbaiki asupan gizi keimanan gue. Tapi dari semua orang hebat yang hadir dalam perjalanan hidup gue, Kakak Idola gue tetap yang terhebat. Miss you, Kak....😊
Perjalanan ini dimulai dari sebuah mimpi. Mimpi yang selama ini bersamayam dalam pelupuk mata, namun terus menggelayuti pikiran. Melewati jalan sempit yang tak bertuan, lelah yang semakin menyiksa batin, namun akhirnya terbayar sudah dengan harapan yang menguatkan jiwa, bahwa mimpi itu akan menjadi nyata.
Hentakkan kaki yang melangkah semakin keras, terdengar semangat tak gentar dalam setiap langkah. Aku berjalan dengan sajuta mimpi dan cita-citaku, tak peduli orang berkata ini dan itu. Tatapanku hanya bertuju pada satu tujuan, yaitu mimpi itu menjadi nyata.
Banyak orang yang mengatakan, kalau mimpi jangan terlalu tinggi, karena sakit rasanya ketika mimpi itu tak pernah menjadi nyata. Tapi semua itu sirna seketika, saat aku bertemu dia, Theresia Ebenna Ezeria Pardede atau masyarakat luas lebih mengenalnya dengan nama tERe. Tapi aku memanggilnya Kakak Idola.
Siapa yang tidak mengenal sosok Kakak Idola di se-antero negeri ini? Dia perempuan hebat. Dia bukan hanya seniman yang mempertahankan idealisnya dalam berkarya, tapi dia adalah orang yang menyadarkan aku dengan segala potensi dan bakat yang ada dalam diri ini. Cara berpikirnya yang lugas, tutur katanya yang santun, dan keramahannya membuat siapapun yang mengenalnya akan kagum pada sosoknya. Kakak Idola yang mengajarkanku banyak hal. Setiap saat bersamanya, setiap saat itu pula dia selalu berbagi ilmu, mengajarkanku banyak hal. Tentang hidup, mimpi, cita-cita, dan banyak lagi yang tidak bisa ditulis di sini.
Kakak Idola adalah satu-satunya orang yang percaya dengan kemampuan yang kumiliki. Saat itu, hanya dia yang mau membaca setiap baris tulisan yang kubuat. Tidak bagus, bukan apa-apa, tapi dia mau meluangkan waktu untuk membacanya. Dia yang meyakini aku dengan kemampuan itu. Rasa percaya diri adalah kelemahanku. Sekali lagi, Kakak Idola berhasil mematahkan kelemahanku. Karenanya juga, aku bisa percaya diri dengan kemampuan dan bakat yang kumiliki.
Kakak Idola pernah berkata, bahwa mimpi jika diniatkan pasti terwujud. Kata-kata itu terus terngiang hingga saat ini, meskipun sebagian mimpi itu telah terwujud. Tapi aku tidak hanya berhenti sampai di titik pencapaian ini. Ada banyak hal yang harus diperbaiki, dibenahi, dan dicapai dalam hidup ini. Bukan hanya materi, tapi lebih dari itu.
Bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini adalah yang utama. Bersyukur karena dipertemukan dengan Kakak Idola. Dari Kakak Idola, aku bisa mendapatkan banyak hal. Bahkan mimpi itu terwujud. Tanpa Kakak Idola, aku bukan siapa-siapa. Dia bukan sekedar Kakak Idola, tapi dia adalah inspirasi dari setiap karya tulis yang kubuat. Juga menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Kebersamaanku dengan Kakak Idola memang singkat, tapi kebaikan dan ilmu yang ditanamkannya dalam diri ini akan terus tumbuh dan berkembang menyinari dunia. Kakak Idola selalu berpesan, jadilah diri sendiri dan gunakanlah kemampuan itu untuk kebaikan juga hal yang positif. "Semoga kamu semakin bersinar dan dapat menerangi dunia juga sekitarmu dengan kemampuanmu". Kata-kata Kakak Idola tidak akan pernah terlupakan.
Kini, aku sibuk dengan duniaku. Begitu pun dengan Kakak Idola. Tapi aku berjanji akan menemuinya, menunjukkan bahwa yang dia ajarkan kini bermanfaat. Aku bisa menjadi lebih baik dan kuat karena yang diajarkannya, ilmu yang diberikannya, ilmu yang tidak pernah didapatkan di bangku sekolah.
Satu hal yang membuat aku bangga padanya, di sela-sela kesibukanku, ketika aku menghubunginya melalui email, dalam balasannya, dia tidak pernah lupa mengingatkanku tentang kewajiban sebagai umat muslim, sholat lima waktu jangan pernah ditinggal. Sungguh, dia memang benar-benar Kakak Idola.
Kini, keliling Nusantara, dari Sabang sampai Merauke bukanlah sesuatu yang baru dalam hidupku. Aku bersyukur mendapatkan kesempatan dan kepercayaan itu. Tanpa bakat yang diberikan oleh Sang Pencipta, tanpa Kakak Idola yang menyadarkanku, aku bukan siapa-siapa. Mungkin saat ini, aku masih anak culas yang meninggikan mimpinya tanpa mau berusaha karena takut akan cibiran orang lain. Anak culas yang masih bermalas-malasan di tempat tidur meratapi hidupnya.
Masih banyak yang ingin kucapai dalam seni merajut kata. Walaupun masih banyak orang yang merendahkanku dengan mimpi itu, merendahkan bakat yang diberikan Sang Pencipta. Tapi kutetap berjalan dengan keyakinan itu, bahwa dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Sekarang roda kehidupan ada di bawah, tapi esok kita tidak akan tahu, kita akan berada di atas dan memimpin dunia.
Dari semua hal yang telah berlalu, gue juga bersyukur (maaf, bahasa yang digunakan tidak konsisten), di dunia yang baru ini, gue dipertemukan dengan seseorang yang kalau sesuai dengan struktur organisasi di kantor, dia itu atasan gue. Tapi buat gue, dia juga bukan sekedar atasan. Apapun gue menyebutnya, gue berterimakasih karena dia juga membantu gue untuk menjadi lebih baik dan mendekatkan gue dengan Sang Pencipta. Sedikit banyak, dia tempat gue bertanya tentang kebutuhan rohani gue yang selama ini hanya seadanya. Bisa dikatakan, dia membantu gue memperbaiki asupan gizi keimanan gue. Tapi dari semua orang hebat yang hadir dalam perjalanan hidup gue, Kakak Idola gue tetap yang terhebat. Miss you, Kak....😊
Comments
Post a Comment