Karena Sayang Itu....

Waktu berapa lama kita mengenal seseorang bukanlah jaminan untuk bersahabat atau membangun sebuah hubungan. Terkadang, waktu pengenalan yang singkat mampu membuat kita merasa nyaman bersamanya. Baik itu saat berkeluh kesah, berbagi canda tawa atau ketika marah, ia mampu meredam segala amarah itu dan memahami diri kita, bahkan percaya antara satu dengan yang lainnya hingga kita merasa nyaman. Sahabat, seperti saudara apapun itu namanya, tapi dia mampu membuat kita menjadi lebih baik dan mengajari banyak kebaikan.

Gue bukanlah orang yang mudah akrab dan dekat dengan orang yang baru gue kenal. Apa lagi bisa berbagi, itu sulit. Karena gue bukan orang yang mudah beradaptasi juga bersosialisasi. Dan gue adalah orang yang paling egois, asik dengan dunia gue sendiri tanpa peduli dengan sekitarnya. Gue juga gak mudah menerima sesuatu yang baru, butuh waktu untuk menerimanya.

Tapi apa yang gue alami saat ini, sungguh di luar dari apa yang pernah gue lewati. 

Dia memang orang biasa, bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dia hanya sebatas senior dan atasan gue. Tapi dia berhasil menjadikan dirinya untuk gue seperti saudara. Terkadang, kita sering bertengkar, gue sering meributkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diributkan. Tapi dia mampu sabar menghadapi gue.

Gue tau, dia memiliki banyak beban dan dia juga bukan orang yang sempurna. Tapi, gue membutuhkan sosoknya untuk meredakan segala ambisi gue yang tinggi. Saat gue dekat dengannya, gue serasa berada di dalam pelukan mama. Gue merasa nyaman, aman dan terlindungi. Dia persis cerminan mama. Sikapnya dan cara dia memperlakukan gue, sehingga rasa sayang itu semakin tumbuh.

Saat gue kangen mama, sosoknya mampu mengobati sedikit kerinduan gue terhadap mama. Meskipun jarak Jakarta - Tangerang itu dekat, tapi karena kesibukan gue dengan pekerjaan yang saat ini gue jalani, membuat gue terkadang harus jauh dari mama hingga berminggu-minggu. Gue yang terbiasa semua dengan mama, apapun itu harus ada mama. Hingga saat ini, ketika gue pulang ke rumah, gue masih tidur sama mama. Gue belum bisa terlelap kalau belum dibelai mama, entah itu sekedar mengusap-usap dahi atau membelai rambut gue. Gue memang masih anak manja yang semua dengan mama. Ketika jauh dari mama, gue bisa mendapatkan itu dari dia (meskipun gak semuanya seperti mama).

Gue sering buat dia marah dan kesal. Tapi dia sabar menghadapi gue. Dan gue, kadang gak bisa terima ketika ada orang yang menyakitinya atau membuatnya sedih. Dia bukan siapa-siapa. Tapi buat gue, dia berarti. Ketulusan yang dia punya, yang orang lain terkadang tidak bisa melihat itu.

Banyak hal yang dia gak tau, karena gue gak bisa mengungkapkan semua padanya. Gue butuh dia untuk menemani gue setidaknya sampai meraih salah satu mimpi yang gue punya. Memang berat, tapi gue berharap dia mengerti tanpa harus gue mengatakannya. Gue memang bukan bagian dari saudara kandung atau hubungan darah dengannya. Tapi gue menyayanginya, karena buat gue memiliki seorang "Kakak" ataupun "Saudara" bukan hanya karena dia adalah orang yang lebih tua dari kita dan lahir dari satu rahim dan satu benih yang sama.

Baru pertama kali ini gue bertemu dengan orang seperti dirinya. Biasa saja, sebagai atasan "gak ngebos", meskipun dia juga terkadang menyebalkan. Jujur gue sebenarnya suka sekali ketika melihat dia marah karena sikap gue yang terkadang seperti anak kecil. Karena di situ akan terlihat se-sayang dan se-peduli apa dia dengan gue.

Terlepas dari semua itu, gue menyayanginya. Buat gue menyayangi seseorang itu tidak mengenal batasan waktu dan usia juga jenis kelamin. Karena pada dasarnya, nilai sebuah kasih sayang itu lebih besar dari pada cinta yang universal. Sayang itu hanya kita berikan terhadap orang-orang tertentu saja yang menurut kita pantas untuk disayang. Memang benar, terkadang orang lain seperti saudara dan saudara sendiri malah terkadang seperti orang lain. 

Gue harap, jika dia membaca tulisan ini dapat mengerti bahwa dia gak sendiri. Beban itu memang berat, membuatnya jenuh, bosan, bahkan tidak nyaman. Tapi gue berharap, dia dapat bertahan untuk beberapa saat. Karena bukan hanya gue yang membutuhkannya, ada beberapa yang lain juga butuh dirinya. Setidaknya sampai kita sama-sama mendapatkan apa yang kita cari, lalu bersama-sama meninggalkan semua yang selama ini menjadi bebannya. Karena apa yang dia rasa, gue dan mereka pun merasakannya. 

Gue sulit mengatakan semua padanya, tulisan ini mewakili apa yang ingin gue ungkapkan padanya. Gue punya banyak teman dari berbagai lapisan. Dari gembel, urak-urakan, orang biasa, orang ternama, hingga pejabat. Gue punya sahabat yang selalu setia mendengarkan teriakan gue saat sedih dan bahagia. Gue punya Kakak Idola yang mengajari gue banyak hal hingga gue berhasil menjadi apa yang gue inginkan. Gue punya adik yang selalu melengkapi kekurangan dan sayang gue. Gue punya cinta untuk menemani gue menyusuri lika-liku kehidupan yang penuh misteri, berbagi suka dan duka, menjadi tempat bersandar saat letih tak bisa terhindar, tempat melepas penat. Tapi kehadiran dia, meskipun dia bukan orang yang sempurna, mampu membuat gue menyadari banyak hal. Salah satunya adalah lebih dekat dengan Sang Pencipta. Sosok seperti dia baru gue temukan. Dan gue sayang dia, sama halnya seperti gue menyayangi Kakak Idola dan adik gue (gue harap dia juga mengerti ini). Gue gak rela kalau dia disakiti, tapi gue juga berharap dia menjadi lebih kuat untuk bertahan hingga waktu itu tiba, sekali lagi, kita melangkah bersama keluar dari tempat itu. 

Comments