Pulau Anambas Nan Eksotis Tak Terlupakan

Dapat mengunjungi Kepulauan Anambas akhir tahun 2016 lalu dalam rangka operasional perdana Bandara Letung adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Perjalanan menuju Anambas dari Jakarta adalah sebuah petualangan bagi saya. Karena untuk sampai di sana, saya harus mengumpulkan segenap keberanian untuk mengarungi perjalanan menggunakan kapal laut yang merupakan yang pertama kali bagi saya.

Dari Jakarta terbang menuju Batam menggunakan transportasi udara, setelah sampai di Batam lalu melanjutkan perjalanan menuju Anambas menggunakan kapal cepat selama enam jam. Kepulauan Anambas berada di perairan laut China Selatan yang terkenal dengan gulungan ombaknya yang ganas. Saat saya menuju Anambas, cuaca tidak begitu bagus. Ketinggian ombak mencapai 4-6 meter, sehingga kapal yang saya tumpangi pun beberapa kali goyang dan terbanting ombak, sehingga saya dan seluruh penumpang yang berada di dalam kapal tersebut menjadi mual dan muntah. Seluruh makanan yang masuk ke dalam perut saya sebelum berangkat pun keluar semua. Karena cuaca yang buruk, perjalanan yang ditempuh pun menjadi delapan jam. Sampai di Anambas, tepatnya di Pulau Jemaja yang merupakan salah satu pulau yang berada di Kepulauan Anambas, kaki saya bergetar begitu hebat karena terombang-ambing ombak selama delapan jam.

Namun demikian, rasa lelah selama dalam perjalanan itu terhapus dengan keindahan alam Kepulauan Anambas yang masih begitu asri. Lautnya yang biru dengan pasirnya yang putih begitu menawan. Mata saya tak henti memandang keindahan Anambas yang begitu eksotis. Hamparan laut lepas yang biru dengan desiran ombak serta keindahan alamnya memecah rasa takut saya sepanjang perjalanan yang baru saja ditempuh. Pulau dengan iklim tropis tersebut berada di bagian paling barat Indonesia dan berbatasan langsung dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Vietnam.

Tak heran, jika Anambas menjadi primadona destinasi wisata di bagian barat Indonesia. Di Kepulauan Anambas terdapat Pulau Berhala yang letaknya berhadapan langsung dengan Kota Letung, Pulau Jemaja, yang terhubung langsung dengan jembatan. Menurut cerita masyarakat setempat, dahulu Pulau Berhala ini pernah dijadikan tempat penampungan pengungsi warga Vietnam. Namun karena lokasinya yang berdekatan dengan Letung, maka para pengungsi dari Vietnam tersebut dipindahkan ke Pulau Kuku untuk menghindari kekhawatiran masyarakat setempat terhadap  warga Vietnam.

Selain Pulau Berhala, Anambas juga memiliki Pulau Bawah yang mendapatkan predikat sebagai Pulau Tropis Terindah se-Asia. Pulau Bawah berada di Kecamatan Siantan.Untuk sampai ke Pulau Bawah membutuhkan waktu perjalanan selama tiga jam dari Tarempa, Ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas. Banyak yang mengatakan, bahwa Pulau Bawah ini merupakan surganya pecinta wisata bawah laut dan snorkeling juga digadang-gadang sebagai Maldives-nya Indonesia. Tak heran, jika banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke pulau tersebut.

Tetapi, keindahan Kota Letung di Pulau Jemaja pun tak kalah dari Pulau Bawah. Rumah-rumah panggung yang dibangun di atas air laut menambah keunikan tersendiri di Kepulauan Anambas yang didominasi oleh suku Melayu. Begitu juga dengan tempat saya menginap di Kota Letung, yakni penginapan Miranti pun didirikan di atas air laut. Bagi pecinta sunset, dari penginapan ini juga dapat melihat matahari terbenam dengan cantik dan dapat mengabadikannya dalam bidikan kamera. Saya sendiri pun tak melewati moment itu, dengan kamera DSLR, saya mengabadikan keindahan sunset di Pulau Jemaja.

Dua hari di Kota Letung, saya tidak melewati kesempatan itu begitu saja. Dari tempat saya menginap, terdapat beberapa kapal kayu milik nelayan yang sedang bersandar. Terlihat tiga orang anak kecil sedang bermain di atas kapal tersebut. Mereka tertawa tanpa beban, bercanda dengan riang dan bermain di alam tanpa polusi. Saya coba dekati mereka dan mengajaknya berbicara. Satu di antaranya adalah siswa kelas 4 SD, sedangkan yang dua orang lainnya mereka tidak sekolah karena faktor ekonomi. Saya hanya terdiam tak mampu berkata. Dari tatapan matanya, tersirat sebuah harapan dan mimpi besar kelak saat mereka dewasa. Anak-anak itu adalah generasi muda, penerus bangsa yang kelak akan memimpin negara ini. Seharusnya mereka pun bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan faktor ekonomi mestinya tak lagi menjadi penghalang bagi mereka untuk meraih mimpi dan cita-citanya. Negara ini sangat kaya, sungguh ironis jika masih ada anak bangsa yang tidak dapat mengenyam pendidikan karena faktor ekonomi.

Pengalaman pertama mengunjungi Kepulauan Anambas bagi saya sangat mengesankan, meskipun bulan April 2017 saya baru saja berkunjung kembali ke Anambas. Pertama kali berkunjung dengan kunjungan yang kedua tentu berbeda. Saat kunjungan yang kedua, keadaan Bandara Letung tetap yang menjadi tujuan utama perjalanan saya dalam bertugas seperti kunjungan yang pertama. Namun yang membedakan adalah kini kondisi bandara
Anak-anak Kota Letung sedang bermain di atas kapal kayu 

sudah jauh lebih baik. Dengan adanya bandara di Anambas, tentu akses menuju pulau itu pun semakin mudah dan tak perlu lagi menempuh perjalan hingga berjam-jam di tengah laut lepas China Selatan. Hanya 40 menit saja menggunakan pesawat dari Tanjung Pinang menuju Letung, Kepulauan Anambas.






Comments