Ketika mereka saling memperebutkan kekuasaan atas Ibu
Pertiwi, berlomba-lomba meneriakkan visi misi untuk mendapatkan perhatian dan
simpatisan rakyat hingga berbagai cara pun dilakukan meskipun menyakiti hati
Ibu Petiwi hingga menangis dengan apa yang terjadi atas nama Pesta Demokrasi.
Jiwa ini merintih, hati ini menangis, kaki ini terus
melangkah mencari sesuatu yang telah lama menghilang bahkan mungkin sulit untuk
didapatkan kembali. Gotong royong, keramahan, saling menerima meskipun berbeda,
senyuman tulus itu, tanah yang hijau dan aromanya yang khas setelah dibasahi
air hujan, semua itu menghilang setelah disapu bersih oleh kejamnya arus
politik. Agama yang dipolitisasi, begitu pun sebaliknya politik di dalam
dakwah. Seketika negeri ini dihujani oleh berbagai macam kericuhan, berita
bohong, saling mencaci karena berbeda hingga lupa akan persaudaraan.
Kini, tidak hanya elit Politik saja yang sibuk mencari
kemenangan bagi kelompoknya. Tetapi sebagian besar masyarakat dari berbagai lapisan
pun kini turut mengikutinya demi kemenangan Pemimpin idolanya tanpa
memperdulikan apa yang benar dan apa yang salah. Sungguh miris. Hal itu terjadi
dan terus bergejolak, semakin panas hingga melupakan semboyan negeri ini, yakni
Bhineka Tunggal Ika yang semakin tak berarti.
Politik tetaplah Politik, pesta demokrasi biarlah berjalah
seperti apa adanya. Saya tak memihak siapapun. Yang saya tahu hidup ini terus
berjalan siapapun Pemimpinnya. Perut lapar dan harus diisi, tanpa bekerja
bagaimana bisa memiliki penghasilan untuk membeli sesuap nasi? Semua yang sudah
tersaji di negeri ini bukanlah hasil instant, tetapi melalui proses panjang.
Fasilitas infrasruktur yang kini dapat kita nikmati memang sudah kewajiban
Pemerintah sebagaimana mestinya untuk membangun negara ini melalaui
infrastruktur untuk kemajuan bangsa ini. Dengan hadirnya infrastruktur yang
merata dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas hingga Pulau Rote,
menunjukkan bahwa bangsa ini memang besar dan Pemerintahnya memperhatikan rakyatnya.
Itu adalah kewajiban bukan prestasi namun patut diapresiasi.
Memang betul, dengan hadirnya infrastruktur yang kini
semakin berkembang pesat pembangunannya di setiap pelosok negeri ini memberikan
dampak positif bagi masyarakatnya, salah satunya adalah perkembangan daerah
tersebut menjadi semakin maju karena dengan dibangunnya infrastruktur pun turut
mendongkrak perekonomian daerah itu menjadi menggeliat karena semakin mudah
dijangkau, seperti pembangunan bandara baru yang terus digenjot Pemerintah agar
terhubung dengan daerah lainnya melalui transportasi udara, baik untuk
mengangkut penumpang maupun kebutuhan logistic. Akan tetapi pembangunan
infrastruktur ini tidak hanya ada saat ini saja, tetapi jauh sebelum Indonesia
merdeka pembangunan infrastruktur sudah dimulai hanya saja belum optimal.
Terlepas dari itu semua siapapun Pemimpinnya, saya hanya
seorang anak bangsa yang bermimpi negeri ini bisa sejahtera, adil, makmur dan
sentosa. Tidak ada lagi perpecahan karena perbedaan. Saling bergandeng tangan,
menopang satu dengan yang lainnya demi kemajuan negeri ini. Hidup ini indah
bila kita bisa saling menghargai perbedaan dan saling melengkapi hingga
tercipta kedamaian. Saling berbagi dan saling mengisi. Bermpimpi lalu
mewujudkannya dengan sama-sama membangun negeri ini menjadi benar-benar Indonesia Raya.
Sebagai anak bangsa, saya merindukan Ibu Pertiwi ini dengan
segala keramahannya, keindahannya, keelokannya, kedamaiannya, bahkan senyuman
tulus negeri ini. Nusantaraku yang kaya raya akan sumber daya alamnya yang
berlimpah ruah namun belum semuanya dapat dinikmati oleh rakyatnya. Kini yang
terlihat hanyalah keangkuhan dari setiap kelompok yang merasa paling benar dan
hebat.
Comments
Post a Comment